JNE

Semenjak belajar berbisnis online, hari-hari saya tidak jauh-jauh dari yang namanya JNE. Saya punya satu langganan Agent JNE yang awalnya saya kira pemiliknya galak. Karena keseringan berkunjung, saya jadi dapat banyak cerita dari beliau tentang “variasi” customer yang datang ke ‘warung’ JNE-nya.

Pertama, tipe yang pasrah dan sopan seperti saya (GR boleh donk) .Tipe pertama ini sadar betul bahwa dia dan JNE saling membutuhkan sehingga sangat berhati-hati dalam berkomunikasi. Tidak mau menuntut banyak seperti waktu pengiriman harus secepatnya sampai. Mau menurut kalo disuruh melengkapi alamat tujuan dan no HP penerima paket. “Justru yang nggak menuntut banyak dan mau nurut kayak mbak ini yang paketnya cepet sampe”, komentar si bapak JNE.

Kedua, tipe pembeli adalah raja. Tipe kedua ini memperlakukan si petugas JNE (maaf) yah seperti pembantunya. Sudah jelas-jelas jadwal buka hanya sampe jam 18.00, datang jam 18.05 dan marah-marah tidak dilayani. Dalam hati saya mendengar cerita si bapak, “Dikata ini JNE punya dia apa, ngaca dulu kali sebelum memarahi orang yang tidak dikenal”. Ada juga yang datang dengan membanting barang yang mau dikirimkan ke hadapan/meja si bapak. Ada apa dengan orang-orang ini? Apa susahnya sih bersopan santun sedikit ke orang yang membantu kita mengirimkan paket?

Ketiga, tipe absurd. Tipe ketiga ini kenapa absurd karena menuntut barang sampai sesegera mungkin tapi maunya cuma bayar pake yang reguler. Ya jelas saja tuntutannya absurd.

Keempat, tipe pemalas. Tipe keempat ini biasanya dimiliki oleh para pebisnis online. Masak yah mau kirim jualan tas ke Padang, tasnya cuma dibungkus pake kertas kacang yang tipis/ringkih yang rawan sobek. Lagi-lagi si petugas JNE harus kerja extra melapisi paket tersebut dengan gulungan plastik supaya bungkusannya lebih padet dan kokoh.

Saya mungkin bisa sedikit berempati ke bapak JNE tersebut karena pekerjaan saya sehari-hari pun sering melayani banyak jenis karakter manusia dengan rupa-rupa level IQ,EQ dan SQ. Saya perlakukan si bapak JNE sebagaimana saya ingin diperlakukan oleh client-client saya. Sopan dan mau nurut kalo dikasih tau!

IMG00352-20120930-1618

2 weeks in Japan

Seharusnya tulisan ini saya tuntaskan setahun yang lalu. Berhubung kesibukan yang menyita dan ketidakPDan saya dalam men-share suatu pengalaman akhirnya baru sekarang kesampaian menulis.

6-19 November 2011, Tokyo, Japan

IMG_1723Awalnya saya tidak pernah bermimpi atau berkeinginan untuk bisa ke luar negeri. Sejak kecil saya memang tidak pernah punya mimpi spesifik. Semua saya lakukan semampunya dan atas Rahmat Allah sajalah saya bisa mendapatkan hal-hal yang diluar perkiraan saya. Ceritanya di kantor saya ditawari salah satu bos untuk mengikuti training di Jepang. Singkat cerita, setelah memasukan bahan-bahan dan diterima, jadilah saya untuk pertama kalinya menginjakan kaki di tanah yang bukan tanah air saya. Jepang. Lagi-lagi disini tangan Tuhan bermain karena jujur jangankan ke Jepang, ke Singapura yang cuma 1-2 jam dari Jakarta saja saya tidak ada niatan untuk kesana. Mungkin Tuhan kasihan liatin saya uring-uringan ga jelas di kantor :P.

IMG_1762IMG_1750Saya sampai di Tokyo hari Minggu pagi dimana langit terlihat berkabut dan jalanan amatlah sepi dibalik kaca jendela bis yang berembun. Suasana Tokyo seperti kota mati. Suhu udara berkisar belasan derajat karena sudah masuk musim gugur (autumn). Setiba di asrama dan mendapat kamar, saya sempatkan tidur sejenak karena suasananya memang sangat mendukung untuk tidur. Begitu hening bagai di kuburan (kayak yang suka nongkrong d kuburan aja ><). Meski udara di luar dingin, ternyata AC di kamar bisa dimaksimalkan suhunya sehingga suhu di kamar jadi hangat. Saya baru tahu kalo fungsi AC tidak hanya sebagai pendingin tapi juga penghangat.

IMG_1859Hari pertama tentu saja orientasi yang diteruskan dengan presentasi Country Report di hari berikutnya. Pada saat presentasi terasa sekali kalo English saya masih sangat terbatas. Hari-hari berikutnya dilanjutkan dengan kuliah dan diskusi di kelas dan beberapa kali field trip. Training diakhiri dengan presentasi Action Plan yang diambil berdasarkan kondisi riil di Indonesia dan bahan kuliah yang telah diterima selama 2 minggu training.

Di tengah-tengah masa kuliah, minggu pertama saya sempatkan setelah kelar kuliah (sehabis makan malam dan shalat Maghrib-Isya) ke Tokyo Tower, Akihabara dan mengunjungi guru SMA  yang sekarang mengajar di SRIT dan tinggal di daerah Meguro. Karena hari Sabtu-Minggu libur, saya sempatkan ke Shibuya, Asakusa, Harajuku dan Imperial Garden.

Minggu kedua saya sudah malas jalan sehabis kuliah sehingga lebih memilih menghabiskan malam dibalik selimut sambil menonton TV d kamar :P. Memang dasar anak rumahan, ga bisa jauh-jauh dari yang namanya kamar. Tak lupa suhu AC saya setel maksimal biar makin hangat :3. Subhanallah nikmatnya ^_^.

IMG_1863IMG_1965IMG_1944

Ada beberapa kejadian menarik yang terjadi selama saya berpetualang di Tokyo.

1. Hari pertama, sehabis “tidur siang” saya jalan ke pusat pertokoan terdekat bersama IMG_1815teman mencari makan siang/malam. Lagi asyik-asyik saling memotret datanglah seorang laki-laki Jepang sekitar umur 25-35 tahun menawarkan untuk membantu. Dari bahasa inggrisnya + bahasa tubuhnya saya menangkap “Sini gue bantu fotoin kalian berdua”. Meski awalnya saya agak paranoid kamera saya bakal dibawa kabur akhirnya saya persilahkan beliau membantu. Sepertinya orang Tokyo cukup welcome dengan turis. Pengalaman yang sama juga saya alami ketika lagi di sekitar Tokyo Tower. Lagi-lagi ditawari bantuan yang jujur sebenarnya kami tidak butuh. Tapi melihat si orang Jepangnya sabar nungguin sambil megangin helmnya (sepertinya dia pulang kerja dan kebetulan lewat) akhirnya kami persilahkan beliau membantu. Meski hasilnya kurang memuaskan tapi saya tersentuh dengan orang Jepang yang satu ini. Dia bahkan tampaknya tidak ngerti English sama sekali sehingga butuh bahasa tarzan untuk nerangin cara kerja kamera kami :D. Kesimpulan saya dari kedua kejadian ini, orang Jepang itu kepo juga yah ? tapi kepo yang positif pengen bantuin.

2. Suatu ketika tiket kereta saya hilang (sepertinya jatuh di kereta). Padahal untuk keluar dari stasiun, tiket tersebut harus kita masukan kembali ke mesin. Yah hampir samalah dengan CL ke Bogor tapi bedanya yang ambil tiket kita kembali mesin. Panik, saya pun menyiapkan duit receh buat beli tiket lagi. Begitu sampai di stasiun tujuan, dengan English yang terbata2 saya menerangkan ke petugas di stasiun bahwa tiket saya hilang. Sambil menunjukkan tiket teman seperjalanan saya. And then he asked “Issho ni?” yang kira2 artinya “Kalian bareng?”. Saya jawab “Yes”. Alhamdulillah kita berdua dikasih lewat sama petugasnya tanpa perlu beli tiket lagi \^_^/. Saya pikir orang Jepang masih fleksibel lah, tidak sekaku yang saya bayangkan sebelumnya. Tadinya saya sudah pasrah bakalan disuruh beli tiket lagi T_T.

3.Lagi berdiri di depan gerbang Imperial Garden bertiga dengan teman dan Guru SMA saya.¬† Datanglah seorang pemuda Arab menyapa mengucapkan “Assalamu’alaikum”. Ternyata pemuda itu berasal dari Arab Saudi dan sedang pelesiran ke Jepang. English si Ahmed, si pemuda Arab yang masih duduk di bangku kuliah ini bagus banget ternyata. Ahmed mengaku gak nyangka bisa bertemu muslimah di tengah kota Tokyo :). Demi menghormati kami para wanita, lihatlah posisi si Ahmed saat berfoto bersama kami, tidak mau sejajar /kelihatan lebih tinggi. Sweet brother. Di Takeshita Street Harajuku pun saya sempat di sapa “Assalamu’alaikum” sama pedagang kaki lima berkulit hitam. Sepertinya dia muslim. Tapi saya tidak berani menjawab karena sapaannya terkesan untuk menggoda bukan beneran buat nyapa.

IMG_1902 (2)

4. Ceritanya selama 2 minggu training kami cuma dapat 2 kali libur. Hari Minggu saya putuskan untuk jogging sendirian dan di perjalanan pulang saya menemukan masjid! Usut punya usut ternyata bangunan tersebut adalah Tokyo Mosque. Posisi masjid ini dekat dengan stasiun Yoyogi-uehara. Ini yang saya suka dari Tokyo/Jepang, stasiun keretanya banyak baik bawah tanah maupun di permukaan sehingga kemana-mana cukup naik kereta. Sangat praktis dan gak bakalan nyasar.

Mesjid5. Saat lagi antri di toilet stasiun shibuya, mbak2 cantik yang telah mengantri duluan di depan mempersilahkan saya duluan menggunakan toilet. Wah selain cantik fisik,  juga cantik hati yah mbak2 ini ^^.

6. Saat itu lagi hujan dan saya jalan di trotoar. Sebenarnya bukan trotoar sih,  lebih kepada jalan aspal yang dipagarin di sisi jalan, khusus buat pejalan kaki biar aman. Dari jauh ada seorang lelaki Jepang yang memakai payung sama seperti saya. Yang menarik adalah beberapa saat sebelum berpapasan, lelaki tersebut meninggikan dan memiringkan payungnya ke arah berlawanan agar saya tidak terkena ujung payungnya. How thoughtful ! Perilaku seperti itu saya bawa ke tanah air jadinya :P.

7. Waktu itu saya sempat mencoba makan di McD dan KFC-nya Tokyo. Jangan bayangkan luas tempatnya sama kayak di Indonesia yah. Paling gede ukuran boothnya cuma 3×3 m atau malah 2,5×3 m yah? Kecil banget pokoknya. Waktu di KFC tempat duduknya pun kecil mungil cuma pas buat duduk dan makan. Tidak tersedia saus cabe cuma ada saos tomat :(. Sehabis makan, sampah sisa makanan mandiri kita buang sendiri dan tray nya kita taro kembali¬† di dekat tempat pembuangan sampah. Di McD Bangkok saya lihat juga seperti itu. Beda dengan Indonesia yang tidak dibudayakan membersihkan sisa makanan sendiri¬† ya. Mungkin demi menerapkan sistem padat karya biar pegawainya terserap banyak buat beres-beres meja doank.

IMG_1786

8. Di Tokyo juga ada pemulung, pengemis dan pemusik jalanan lho. Kalo pemulung saya perhatikan kemana-mana naik sepeda dan biasanya dia memungut barang yang sudah ditaro di tempat tertentu oleh si pemilik rumah (tidak bercampur dengan sampah). Di asrama pembagian sampahnya seingat saya ada 3 : Organik (makanan), Plastik dan Kaleng. Pengemis dan pemusik jalanan saya temukan di stasiun paling memusingkan yaitu Shinjuku-eki!  Dan masing-masing jumlahnya cuma 1 orang (udah teken kontrak kali yah?). Kalo pengemis modelnya dia cuma duduk sambil bertapa dan menunduk, tar di depannya ada semacam mangkok kaleng kecil gitu. Kalo pemusik jalanan, lebih keren karena pake sound system sehingga bunyi musiknya membahana ke seluruh penjuru, indah! dan ada tulisan promosi yang sepertinya dia menawarkan CD rekaman musiknya.

IMG_1997

9. Mesin ATM. Karena kami mendapat duit belanja dari penyelenggara training (mungkin modal untuk beli omiyage/ oleh2) maka kami diberi semacam kartu ATM sementara yang isinya harus dikosongkan saat kartu tersebut dikembalikan sebelum kepulangan ke tanah air. Dan kelebihan mesin ATM di Jepang adalah bisa mengeluarkan uang sampai pecahan terkecil yaitu 1 Yen! (Mungkin kalo di Indonesia setara duit pecahan 50 Rupiah). Tapi tidak semua ATM bisa, tergantung jenis mesinnya. Berhubung ATM di asrama cuma bisa mengeluarkan Bank Notes (duit kertas) jadilah translator kami suruh ambil di ATM dekat stasiun. Dan khusus mesin ATM di asrama ada jadwal ON OFFnya (jadi tidak 24 jam nyala). Setelah baca-baca blog teman-teman yang lama tinggal di Jepang memang kalau mau nutup rekening tabungan semua dana yang kita miliki bisa ditarik sehingga tersisa 0.

Padang, 25-27 Oktober 2012 (Postingan yang tertunda :P)

Hampir sebulan yang lalu saya mendapat kabar kepastian tanggal pernikahan Abang yaitu sehari setelah Idul Adha 2012. Tepatnya 27 Oktober 2012. Saya putuskan untuk memesan tiket PP tanggal 25-29 Oktober 2012. Namun karena tanggal 29 Oktober – 2 November tiba-tiba saya mendapat tugas dari kantor. Terpaksa saya majukan kepulangan dari Padang menjadi 27 Oktober 2012, dengan pesawat paling malam. Tadinya saya berpikir ijab kabul di Pasaman (tempat keluarga Kakak Ipar) berlangsung pagi, sehingga sehabis ijab kabul bisa langsung meluncur ke Bandara. Namun rencana tinggal rencana, Abang ternyata baru melangsungkan akad nikah paling cepat jam 2 siang, alhasil saya batal menghadiri prosesi pernikahan dan cukup mendapatkan shalat Idul Adha dan menyaksikan pembantaian sapi qurban di mesjid dekat rumah.

Pada saat perjalanan balik dari Padang ke Jakarta, ada banyak kisah yang cukup membuat hidup saya semangat kembali. Mungkin ini yang dikatakan dengan hikmah sebuah perjalanan. Sebelum berangkat ke Bandara, saya bertemu dengan kawan lama yang terakhir kami bertemu yaitu saat tamat SMP. Saat lagi asyik ngobrol dengan kawan tersebut, bertemu juga dengan kawan lama satu SMA yang keduanya baru saja menikah (baru seminggu euy^^). Yah walau sebentar cukup sih untuk menjalin kembali tali silaturrahmi.

Di perjalanan ke bandara, saya pun bertemu 3 orang yang berencana ke Bandung. Seorang bapak dan dua ibu sepantaran ayah dan ibu saya. Mereka bertiga berencana menghadiri pernikahan saudara. Sang bapaknya berkali-kali mengatakan agar saya berhati-hati. Yah mungkin dia kasihan melihat saya seorang diri naik pesawat paling malam. Atau karena saya memakai baju gamis yang modelnya agak seperti baju hamil, mungkin beliau pikir saya sedang hamil dan sendirian saja gitu? hehe. Begitu di ruang tunggu, tidak sengaja berkenalan dengan Dokter Spesialis yang terpaksa mempercepat kepulangannya ke Jakarta karena besok pagi sudah harus berangkat ke Vietnam. Sepertinya dokter itu sama dengan saya, tadinya mau pulang hari Senin batal. Mau ubah ke Minggu, nambahnya kemahalan. Akhirnya kami “sama2” memilih Sabtu malam karena nambahnya paling murah :D. Dan ternyata dokter tersebut kenal dengan dokter yang berangkat bareng dengan saya waktu Training JICA November tahun lalu (bumi ini kecil^^). Begitu di pesawat, berkenalan lagi dengan seorang pensiunan PNS tempat saya bekerja yang memiliki anak satu Fakultas dengan kakak saya. Asal bapak pensiunan tersebut ternyata sama dengan kedua ortu saya. Pariaman. Lagi-lagi saya harus bilang bumi ini kecil :). Begitu naik Damri Bandara-Ps.Minggu, lagi-lagi dapat teman seperjalanan yang menyenangkan. Si mbak yang asli Jogja bercerita tentang pengalamannya mendaki Gunung Rinjani di Lombok. Yah, mendengar ceritanya saya ogah deh mendaki gunung hehe. Mendaki bukit saja.Entah kenapa seharian ini saya aktif sekali bersosialisasi. Biasanya saya hanya akan diam dengan teman seperjalanan saya.

Seperti yang terjadi saat saya berangkat dari Jakarta ke Padang. Dari Halte Pancoran ke Bandara ceritanya saya share Taxi dengan seorang bapak yang akan terbang ke Semarang. Awalnya sudah ada dua orang yang menunggu bus Damri di halte tersebut. Lalu datanglah seorang supir Taxi bandara yang menawarkan jasanya. Supir tersebut lama menawarkan kepada dua orang tersebut dan namun tidak menawarkan ke saya (mungkin penampilan saya bukan kayak org mau ke bandara kali yak). Kedua penunggu halte tadi (serem banget istilahnya X( ) menolak dan keukeuh ingin menunggu bus Damri. Saya sempat kasihan dan berpikir untuk naik Taxi bapak itu saja karena melihat sang supir setia berdiri di depan kedua orang tadi. Kemudian datang satu orang bapak yang juga ditawarkan oleh supir Taxi tsb untuk diantar ke bandara. Saya pun mendekati si supir, penasaran dengan harga yang ditawarkan plus kasihan melihat beliau lama menunggu. Singkat kata dia ternyata rela dibayar 25 ribu per orang sudah including tol (cuma beda 5 ribu dengan Damri yang entah kapan datangnya). Akhirnya saya pun setuju dan si bapak yang baru datang tadi pun setuju. Jadilah saya dan bapak tersebut menumpang taxi yang sama. Di perjalanan saya hanya berbasa-basi dengan menanyakan tujuan penerbangan si bapak. Untung beliau duduk di depan dan saya di belakang. Menurut saya, untuk ukuran bapak-bapak, sikapnya memilih duduk di depan tersebut sangat menghargai saya yang cuma satu2nya wanita di kendaraan umum tersebut. Saya bersyukur karena ada saja kemudahan dan kebaikan orang yang dipertemukan dengan saya oleh Tuhan selama di perjalanan berangkat dan balik. Alhamdulillah (Thanks to Allah) :D.

B3

Belajar Berdagang dan Berbisnis (B3)

Ayah dan Ibu saya berdagang dan sejak kecil saya akrab dengan dunia perdagangan, dimulai dari membantu Ayah menjaga kedai kami di rumah. Tapi keinginan berdagang saya muncul begitu mulai bekerja di sebuah kantor. Seperti yang diketahui pekerjaan kantoran amatlah membosankan dan membuat pikiran mumet dengan aneka permasalahan kantor yang ada. Niat awal berdagang murni ingin menggeser masalah kantor dengan masalah baru yaitu berdagang :).

Suatu ketika, saya berselancar di dunia maya dan melihat facebook junior saya yang ternyata baru saja menikah. Begitu melihat foto-foto pernikahannya, saya juga tak sengaja meilihat foto lain yang di-tag sebelumnya yaitu foto promosi hijab double hicon. Karena tampilan foto promosi itu sangat menarik awalnya saya tertarik untuk membeli. Begitu saya buka blog toko online hijab tersebut, saya menemukan bahwa harga reseller (minimal beli 12) mendapat diskon. Tentu saja saya tergiur untuk beli sekaligus banyak (sisanya dijual ke orang lain) demi mendapat harga lebih murah. Entah kenapa saya mendapat ilham untuk mencoba menjual hijab tersebut ke teman kantor dan teman di facebook/twitter/BB. Jadilah saya copy darat dengan co-foundernya. Ternyata beliau junior satu kampus namun beda jurusan. Alhamdulillah, setidaknya kepercayaan sudah tercipta karena kami satu kampus.

DHicon

Sebetulnya saya sudah pernah berjualan produk lain yaitu bag tag, badge dan lanyard produksi senior kuliah. Cuma mungkin pasarnya tidak seluas hijab, meski keuntungannya jauh lebih besar. Saya baru merasakan kerasnya dunia berdagang setelah berjualan hijab. Karena pertama sistemnya saya harus beli cash sehingga kalau tidak laku-laku ya itu resiko saya, makanya sedapat mungkin saya berdagang kontinyu karena saya berpikir warna2 yang belum laku begitu digabung dengan stok baru pasti nantinya akan ada juga peminatnya.

12 warna

Dalam berdagang yang paling penting adalah kejujuran seperti yang telah diajarkan pedagang paling jujur, manusia pilihan, baginda Rasulullah SAW. Siapa lagi yang patut dijadikan contoh oleh para pedagang muslim kalau bukan beliau? Saya pernah suatu kali dimarahi pelanggan karena saya jujur saja menjawab saya memang teledor telat mengirimkan pesanan beliau. Hikmah dibalik marahnya beliau jadi cambuk bagi saya untuk tidak meremehkan lagi masalah waktu pengiriman.

Dalam kerjasama bisnis. Seperti saya dengan junior yang memproduksi hijab atau dengan senior yang memproduksi bagtag. Yang terpenting adalah kepercayaan. Bahkan dari senior, saya dikasih stock gratis, jadi boleh ditransfer modalnya setelah barang laku. Subhanallah kepercayaan beliau ke saya, sehingga saya pun sangat hati2 mencatat hutang saya ke beliau.

Setiap orang bisa berdagang, bahkan modalnya 0 (nol) rupiah yaitu modal kejujuran dan kepercayaan saja. Serta kemauan tentunya. Harus sekreatif mungkin sehingga semua dagangan kita bisa laku dan jangan lupa, berdoa dan tingkatkan ibadah. Ikhtiar dan doa wajib dilakukan bersamaan ibarat berjalan pasti butuh dua kaki tidak mungkin hanya sebelah saja kan?