B3

Belajar Berdagang dan Berbisnis (B3)

Ayah dan Ibu saya berdagang dan sejak kecil saya akrab dengan dunia perdagangan, dimulai dari membantu Ayah menjaga kedai kami di rumah. Tapi keinginan berdagang saya muncul begitu mulai bekerja di sebuah kantor. Seperti yang diketahui pekerjaan kantoran amatlah membosankan dan membuat pikiran mumet dengan aneka permasalahan kantor yang ada. Niat awal berdagang murni ingin menggeser masalah kantor dengan masalah baru yaitu berdagang :).

Suatu ketika, saya berselancar di dunia maya dan melihat facebook junior saya yang ternyata baru saja menikah. Begitu melihat foto-foto pernikahannya, saya juga tak sengaja meilihat foto lain yang di-tag sebelumnya yaitu foto promosi hijab double hicon. Karena tampilan foto promosi itu sangat menarik awalnya saya tertarik untuk membeli. Begitu saya buka blog toko online hijab tersebut, saya menemukan bahwa harga reseller (minimal beli 12) mendapat diskon. Tentu saja saya tergiur untuk beli sekaligus banyak (sisanya dijual ke orang lain) demi mendapat harga lebih murah. Entah kenapa saya mendapat ilham untuk mencoba menjual hijab tersebut ke teman kantor dan teman di facebook/twitter/BB. Jadilah saya copy darat dengan co-foundernya. Ternyata beliau junior satu kampus namun beda jurusan. Alhamdulillah, setidaknya kepercayaan sudah tercipta karena kami satu kampus.

DHicon

Sebetulnya saya sudah pernah berjualan produk lain yaitu bag tag, badge dan lanyard produksi senior kuliah. Cuma mungkin pasarnya tidak seluas hijab, meski keuntungannya jauh lebih besar. Saya baru merasakan kerasnya dunia berdagang setelah berjualan hijab. Karena pertama sistemnya saya harus beli cash sehingga kalau tidak laku-laku ya itu resiko saya, makanya sedapat mungkin saya berdagang kontinyu karena saya berpikir warna2 yang belum laku begitu digabung dengan stok baru pasti nantinya akan ada juga peminatnya.

12 warna

Dalam berdagang yang paling penting adalah kejujuran seperti yang telah diajarkan pedagang paling jujur, manusia pilihan, baginda Rasulullah SAW. Siapa lagi yang patut dijadikan contoh oleh para pedagang muslim kalau bukan beliau? Saya pernah suatu kali dimarahi pelanggan karena saya jujur saja menjawab saya memang teledor telat mengirimkan pesanan beliau. Hikmah dibalik marahnya beliau jadi cambuk bagi saya untuk tidak meremehkan lagi masalah waktu pengiriman.

Dalam kerjasama bisnis. Seperti saya dengan junior yang memproduksi hijab atau dengan senior yang memproduksi bagtag. Yang terpenting adalah kepercayaan. Bahkan dari senior, saya dikasih stock gratis, jadi boleh ditransfer modalnya setelah barang laku. Subhanallah kepercayaan beliau ke saya, sehingga saya pun sangat hati2 mencatat hutang saya ke beliau.

Setiap orang bisa berdagang, bahkan modalnya 0 (nol) rupiah yaitu modal kejujuran dan kepercayaan saja. Serta kemauan tentunya. Harus sekreatif mungkin sehingga semua dagangan kita bisa laku dan jangan lupa, berdoa dan tingkatkan ibadah. Ikhtiar dan doa wajib dilakukan bersamaan ibarat berjalan pasti butuh dua kaki tidak mungkin hanya sebelah saja kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s