Padang, 25-27 Oktober 2012 (Postingan yang tertunda :P)

Hampir sebulan yang lalu saya mendapat kabar kepastian tanggal pernikahan Abang yaitu sehari setelah Idul Adha 2012. Tepatnya 27 Oktober 2012. Saya putuskan untuk memesan tiket PP tanggal 25-29 Oktober 2012. Namun karena tanggal 29 Oktober – 2 November tiba-tiba saya mendapat tugas dari kantor. Terpaksa saya majukan kepulangan dari Padang menjadi 27 Oktober 2012, dengan pesawat paling malam. Tadinya saya berpikir ijab kabul di Pasaman (tempat keluarga Kakak Ipar) berlangsung pagi, sehingga sehabis ijab kabul bisa langsung meluncur ke Bandara. Namun rencana tinggal rencana, Abang ternyata baru melangsungkan akad nikah paling cepat jam 2 siang, alhasil saya batal menghadiri prosesi pernikahan dan cukup mendapatkan shalat Idul Adha dan menyaksikan pembantaian sapi qurban di mesjid dekat rumah.

Pada saat perjalanan balik dari Padang ke Jakarta, ada banyak kisah yang cukup membuat hidup saya semangat kembali. Mungkin ini yang dikatakan dengan hikmah sebuah perjalanan. Sebelum berangkat ke Bandara, saya bertemu dengan kawan lama yang terakhir kami bertemu yaitu saat tamat SMP. Saat lagi asyik ngobrol dengan kawan tersebut, bertemu juga dengan kawan lama satu SMA yang keduanya baru saja menikah (baru seminggu euy^^). Yah walau sebentar cukup sih untuk menjalin kembali tali silaturrahmi.

Di perjalanan ke bandara, saya pun bertemu 3 orang yang berencana ke Bandung. Seorang bapak dan dua ibu sepantaran ayah dan ibu saya. Mereka bertiga berencana menghadiri pernikahan saudara. Sang bapaknya berkali-kali mengatakan agar saya berhati-hati. Yah mungkin dia kasihan melihat saya seorang diri naik pesawat paling malam. Atau karena saya memakai baju gamis yang modelnya agak seperti baju hamil, mungkin beliau pikir saya sedang hamil dan sendirian saja gitu? hehe. Begitu di ruang tunggu, tidak sengaja berkenalan dengan Dokter Spesialis yang terpaksa mempercepat kepulangannya ke Jakarta karena besok pagi sudah harus berangkat ke Vietnam. Sepertinya dokter itu sama dengan saya, tadinya mau pulang hari Senin batal. Mau ubah ke Minggu, nambahnya kemahalan. Akhirnya kami “sama2” memilih Sabtu malam karena nambahnya paling murah :D. Dan ternyata dokter tersebut kenal dengan dokter yang berangkat bareng dengan saya waktu Training JICA November tahun lalu (bumi ini kecil^^). Begitu di pesawat, berkenalan lagi dengan seorang pensiunan PNS tempat saya bekerja yang memiliki anak satu Fakultas dengan kakak saya. Asal bapak pensiunan tersebut ternyata sama dengan kedua ortu saya. Pariaman. Lagi-lagi saya harus bilang bumi ini kecil :). Begitu naik Damri Bandara-Ps.Minggu, lagi-lagi dapat teman seperjalanan yang menyenangkan. Si mbak yang asli Jogja bercerita tentang pengalamannya mendaki Gunung Rinjani di Lombok. Yah, mendengar ceritanya saya ogah deh mendaki gunung hehe. Mendaki bukit saja.Entah kenapa seharian ini saya aktif sekali bersosialisasi. Biasanya saya hanya akan diam dengan teman seperjalanan saya.

Seperti yang terjadi saat saya berangkat dari Jakarta ke Padang. Dari Halte Pancoran ke Bandara ceritanya saya share Taxi dengan seorang bapak yang akan terbang ke Semarang. Awalnya sudah ada dua orang yang menunggu bus Damri di halte tersebut. Lalu datanglah seorang supir Taxi bandara yang menawarkan jasanya. Supir tersebut lama menawarkan kepada dua orang tersebut dan namun tidak menawarkan ke saya (mungkin penampilan saya bukan kayak org mau ke bandara kali yak). Kedua penunggu halte tadi (serem banget istilahnya X( ) menolak dan keukeuh ingin menunggu bus Damri. Saya sempat kasihan dan berpikir untuk naik Taxi bapak itu saja karena melihat sang supir setia berdiri di depan kedua orang tadi. Kemudian datang satu orang bapak yang juga ditawarkan oleh supir Taxi tsb untuk diantar ke bandara. Saya pun mendekati si supir, penasaran dengan harga yang ditawarkan plus kasihan melihat beliau lama menunggu. Singkat kata dia ternyata rela dibayar 25 ribu per orang sudah including tol (cuma beda 5 ribu dengan Damri yang entah kapan datangnya). Akhirnya saya pun setuju dan si bapak yang baru datang tadi pun setuju. Jadilah saya dan bapak tersebut menumpang taxi yang sama. Di perjalanan saya hanya berbasa-basi dengan menanyakan tujuan penerbangan si bapak. Untung beliau duduk di depan dan saya di belakang. Menurut saya, untuk ukuran bapak-bapak, sikapnya memilih duduk di depan tersebut sangat menghargai saya yang cuma satu2nya wanita di kendaraan umum tersebut. Saya bersyukur karena ada saja kemudahan dan kebaikan orang yang dipertemukan dengan saya oleh Tuhan selama di perjalanan berangkat dan balik. Alhamdulillah (Thanks to Allah) :D.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s