2 weeks in Japan

Seharusnya tulisan ini saya tuntaskan setahun yang lalu. Berhubung kesibukan yang menyita dan ketidakPDan saya dalam men-share suatu pengalaman akhirnya baru sekarang kesampaian menulis.

6-19 November 2011, Tokyo, Japan

IMG_1723Awalnya saya tidak pernah bermimpi atau berkeinginan untuk bisa ke luar negeri. Sejak kecil saya memang tidak pernah punya mimpi spesifik. Semua saya lakukan semampunya dan atas Rahmat Allah sajalah saya bisa mendapatkan hal-hal yang diluar perkiraan saya. Ceritanya di kantor saya ditawari salah satu bos untuk mengikuti training di Jepang. Singkat cerita, setelah memasukan bahan-bahan dan diterima, jadilah saya untuk pertama kalinya menginjakan kaki di tanah yang bukan tanah air saya. Jepang. Lagi-lagi disini tangan Tuhan bermain karena jujur jangankan ke Jepang, ke Singapura yang cuma 1-2 jam dari Jakarta saja saya tidak ada niatan untuk kesana. Mungkin Tuhan kasihan liatin saya uring-uringan ga jelas di kantor :P.

IMG_1762IMG_1750Saya sampai di Tokyo hari Minggu pagi dimana langit terlihat berkabut dan jalanan amatlah sepi dibalik kaca jendela bis yang berembun. Suasana Tokyo seperti kota mati. Suhu udara berkisar belasan derajat karena sudah masuk musim gugur (autumn). Setiba di asrama dan mendapat kamar, saya sempatkan tidur sejenak karena suasananya memang sangat mendukung untuk tidur. Begitu hening bagai di kuburan (kayak yang suka nongkrong d kuburan aja ><). Meski udara di luar dingin, ternyata AC di kamar bisa dimaksimalkan suhunya sehingga suhu di kamar jadi hangat. Saya baru tahu kalo fungsi AC tidak hanya sebagai pendingin tapi juga penghangat.

IMG_1859Hari pertama tentu saja orientasi yang diteruskan dengan presentasi Country Report di hari berikutnya. Pada saat presentasi terasa sekali kalo English saya masih sangat terbatas. Hari-hari berikutnya dilanjutkan dengan kuliah dan diskusi di kelas dan beberapa kali field trip. Training diakhiri dengan presentasi Action Plan yang diambil berdasarkan kondisi riil di Indonesia dan bahan kuliah yang telah diterima selama 2 minggu training.

Di tengah-tengah masa kuliah, minggu pertama saya sempatkan setelah kelar kuliah (sehabis makan malam dan shalat Maghrib-Isya) ke Tokyo Tower, Akihabara dan mengunjungi guru SMA  yang sekarang mengajar di SRIT dan tinggal di daerah Meguro. Karena hari Sabtu-Minggu libur, saya sempatkan ke Shibuya, Asakusa, Harajuku dan Imperial Garden.

Minggu kedua saya sudah malas jalan sehabis kuliah sehingga lebih memilih menghabiskan malam dibalik selimut sambil menonton TV d kamar :P. Memang dasar anak rumahan, ga bisa jauh-jauh dari yang namanya kamar. Tak lupa suhu AC saya setel maksimal biar makin hangat :3. Subhanallah nikmatnya ^_^.

IMG_1863IMG_1965IMG_1944

Ada beberapa kejadian menarik yang terjadi selama saya berpetualang di Tokyo.

1. Hari pertama, sehabis “tidur siang” saya jalan ke pusat pertokoan terdekat bersama IMG_1815teman mencari makan siang/malam. Lagi asyik-asyik saling memotret datanglah seorang laki-laki Jepang sekitar umur 25-35 tahun menawarkan untuk membantu. Dari bahasa inggrisnya + bahasa tubuhnya saya menangkap “Sini gue bantu fotoin kalian berdua”. Meski awalnya saya agak paranoid kamera saya bakal dibawa kabur akhirnya saya persilahkan beliau membantu. Sepertinya orang Tokyo cukup welcome dengan turis. Pengalaman yang sama juga saya alami ketika lagi di sekitar Tokyo Tower. Lagi-lagi ditawari bantuan yang jujur sebenarnya kami tidak butuh. Tapi melihat si orang Jepangnya sabar nungguin sambil megangin helmnya (sepertinya dia pulang kerja dan kebetulan lewat) akhirnya kami persilahkan beliau membantu. Meski hasilnya kurang memuaskan tapi saya tersentuh dengan orang Jepang yang satu ini. Dia bahkan tampaknya tidak ngerti English sama sekali sehingga butuh bahasa tarzan untuk nerangin cara kerja kamera kami :D. Kesimpulan saya dari kedua kejadian ini, orang Jepang itu kepo juga yah ? tapi kepo yang positif pengen bantuin.

2. Suatu ketika tiket kereta saya hilang (sepertinya jatuh di kereta). Padahal untuk keluar dari stasiun, tiket tersebut harus kita masukan kembali ke mesin. Yah hampir samalah dengan CL ke Bogor tapi bedanya yang ambil tiket kita kembali mesin. Panik, saya pun menyiapkan duit receh buat beli tiket lagi. Begitu sampai di stasiun tujuan, dengan English yang terbata2 saya menerangkan ke petugas di stasiun bahwa tiket saya hilang. Sambil menunjukkan tiket teman seperjalanan saya. And then he asked “Issho ni?” yang kira2 artinya “Kalian bareng?”. Saya jawab “Yes”. Alhamdulillah kita berdua dikasih lewat sama petugasnya tanpa perlu beli tiket lagi \^_^/. Saya pikir orang Jepang masih fleksibel lah, tidak sekaku yang saya bayangkan sebelumnya. Tadinya saya sudah pasrah bakalan disuruh beli tiket lagi T_T.

3.Lagi berdiri di depan gerbang Imperial Garden bertiga dengan teman dan Guru SMA saya.  Datanglah seorang pemuda Arab menyapa mengucapkan “Assalamu’alaikum”. Ternyata pemuda itu berasal dari Arab Saudi dan sedang pelesiran ke Jepang. English si Ahmed, si pemuda Arab yang masih duduk di bangku kuliah ini bagus banget ternyata. Ahmed mengaku gak nyangka bisa bertemu muslimah di tengah kota Tokyo :). Demi menghormati kami para wanita, lihatlah posisi si Ahmed saat berfoto bersama kami, tidak mau sejajar /kelihatan lebih tinggi. Sweet brother. Di Takeshita Street Harajuku pun saya sempat di sapa “Assalamu’alaikum” sama pedagang kaki lima berkulit hitam. Sepertinya dia muslim. Tapi saya tidak berani menjawab karena sapaannya terkesan untuk menggoda bukan beneran buat nyapa.

IMG_1902 (2)

4. Ceritanya selama 2 minggu training kami cuma dapat 2 kali libur. Hari Minggu saya putuskan untuk jogging sendirian dan di perjalanan pulang saya menemukan masjid! Usut punya usut ternyata bangunan tersebut adalah Tokyo Mosque. Posisi masjid ini dekat dengan stasiun Yoyogi-uehara. Ini yang saya suka dari Tokyo/Jepang, stasiun keretanya banyak baik bawah tanah maupun di permukaan sehingga kemana-mana cukup naik kereta. Sangat praktis dan gak bakalan nyasar.

Mesjid5. Saat lagi antri di toilet stasiun shibuya, mbak2 cantik yang telah mengantri duluan di depan mempersilahkan saya duluan menggunakan toilet. Wah selain cantik fisik,  juga cantik hati yah mbak2 ini ^^.

6. Saat itu lagi hujan dan saya jalan di trotoar. Sebenarnya bukan trotoar sih,  lebih kepada jalan aspal yang dipagarin di sisi jalan, khusus buat pejalan kaki biar aman. Dari jauh ada seorang lelaki Jepang yang memakai payung sama seperti saya. Yang menarik adalah beberapa saat sebelum berpapasan, lelaki tersebut meninggikan dan memiringkan payungnya ke arah berlawanan agar saya tidak terkena ujung payungnya. How thoughtful ! Perilaku seperti itu saya bawa ke tanah air jadinya :P.

7. Waktu itu saya sempat mencoba makan di McD dan KFC-nya Tokyo. Jangan bayangkan luas tempatnya sama kayak di Indonesia yah. Paling gede ukuran boothnya cuma 3×3 m atau malah 2,5×3 m yah? Kecil banget pokoknya. Waktu di KFC tempat duduknya pun kecil mungil cuma pas buat duduk dan makan. Tidak tersedia saus cabe cuma ada saos tomat :(. Sehabis makan, sampah sisa makanan mandiri kita buang sendiri dan tray nya kita taro kembali  di dekat tempat pembuangan sampah. Di McD Bangkok saya lihat juga seperti itu. Beda dengan Indonesia yang tidak dibudayakan membersihkan sisa makanan sendiri  ya. Mungkin demi menerapkan sistem padat karya biar pegawainya terserap banyak buat beres-beres meja doank.

IMG_1786

8. Di Tokyo juga ada pemulung, pengemis dan pemusik jalanan lho. Kalo pemulung saya perhatikan kemana-mana naik sepeda dan biasanya dia memungut barang yang sudah ditaro di tempat tertentu oleh si pemilik rumah (tidak bercampur dengan sampah). Di asrama pembagian sampahnya seingat saya ada 3 : Organik (makanan), Plastik dan Kaleng. Pengemis dan pemusik jalanan saya temukan di stasiun paling memusingkan yaitu Shinjuku-eki!  Dan masing-masing jumlahnya cuma 1 orang (udah teken kontrak kali yah?). Kalo pengemis modelnya dia cuma duduk sambil bertapa dan menunduk, tar di depannya ada semacam mangkok kaleng kecil gitu. Kalo pemusik jalanan, lebih keren karena pake sound system sehingga bunyi musiknya membahana ke seluruh penjuru, indah! dan ada tulisan promosi yang sepertinya dia menawarkan CD rekaman musiknya.

IMG_1997

9. Mesin ATM. Karena kami mendapat duit belanja dari penyelenggara training (mungkin modal untuk beli omiyage/ oleh2) maka kami diberi semacam kartu ATM sementara yang isinya harus dikosongkan saat kartu tersebut dikembalikan sebelum kepulangan ke tanah air. Dan kelebihan mesin ATM di Jepang adalah bisa mengeluarkan uang sampai pecahan terkecil yaitu 1 Yen! (Mungkin kalo di Indonesia setara duit pecahan 50 Rupiah). Tapi tidak semua ATM bisa, tergantung jenis mesinnya. Berhubung ATM di asrama cuma bisa mengeluarkan Bank Notes (duit kertas) jadilah translator kami suruh ambil di ATM dekat stasiun. Dan khusus mesin ATM di asrama ada jadwal ON OFFnya (jadi tidak 24 jam nyala). Setelah baca-baca blog teman-teman yang lama tinggal di Jepang memang kalau mau nutup rekening tabungan semua dana yang kita miliki bisa ditarik sehingga tersisa 0.

Advertisements

One thought on “2 weeks in Japan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s