Polemik Film Cinta Tapi Beda

Waktu itu saya ingat betul melihat poster Film “Cinta Tapi Beda” di Bioskop 21 Blok M Square. Sehabis saya menonton film Habibie dan Ainun. Dari membaca judul dan posternya saja saya sudah tidak tertarik. Pasti film ini berkisah tentang percintaan beda agama, pikir saya. Di poster terlihat sepasang kekasih dengan latar belakang bangunan seperti gereja dan masjid. Kenapa saya tidak tertarik? Karena sudah prinsip saya dari dulu menikah itu harus dengan yang seagama karena pernikahan merupakan salah satu jalan bagi seorang hamba untuk meraih surga-Nya yang agung dan suci. Bagaimana mungkin saya bisa mencium baunya surga kalau mengikuti hawa nafsu saya dan jatuh cinta pada orang yang tidak beriman kepada Allah SWT.

Lalu ada yang berkata begini. “Kan mereka tidak menikah, cuma pacaran beda agama.”Jawab saya. “Lho, pacaran dengan sesama Islam saja hukumnya haram. Apalagi dengan yang bukan Islam. Dan orang itu pacaran tujuannya apa betul tidak untuk menikah? Cuma sekedar iseng pembunuh waktu saja? Mana ada orang berani pacaran dengan target putus alias tidak menikah, karena beda agama. Kalaupun ada, mungkin orang itu tidak sayang dengan waktu dan dirinya.”

Jadi kesimpulannya terlepas dari polemik kontroversi penggunaan kata “Gadis asal Padang”, di film Cinta Tapi Beda ini. Saya sebagai orang Padang tulen tidak tertarik sama sekali untuk menonton film ini. Ngapain buang2 duit untuk sesuatu yang saya sudah tau konsep yang diangkat. Bagi saya, laki-laki/perempuan yang ‘membiarkan’ dirinya tertarik apalagi jatuh cinta dengan orang yang tak seiman dengannya, itu sudah cukup sebagai indikator dangkal dan lemahnya iman ybs. Jika ia beriman, sudah pasti ia akan mencari yang sama dengannya yaitu yang mengakui Allah SWT sebagai Tuhan dan Muhammad SAW sebagai utusan-Nya.

Saya setuju film ini ditarik, tapi bukan karena penggunaan kata “Padang”-nya saja, lebih ke isu percintaan beda agama. Bagi saya, agama itu harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar. Jika anda ingin menanamkan kepada anak bangsa bahwa mencintai seseorang yang beda agama adalah sesuatu yang sah dan wajar adanya, itu sama saja dengan anda meng-encourage anak bangsa untuk semakin lari dari keimanannya masing-masing. Apa jadinya masa depan bangsa jika iman sudah tidak ada lagi di dada? Toleransi itu wajar, tapi jangan kebablasan dan serampangan. Buatlah film yang mengajak orang kepada kebaikan, bukan mengajak kepada kebatilan.

Baca juga link berikut ini :

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s