Ramadhan dan Hidayah Untuk Menutup Aurat

hijab

“..because I chose Islam, which entails that I’ve made a pledge to follow the truth and not try to fit Islam in the lifestyle I wish to have, but rather fit my lifestyle into Islam” (Nisa Khairun-my junior at ITB)

Saya ingin berbagi pengalaman seputar pengalaman Ramadhan. Mumpung lagi di bulan Ramadhan tahun 2014.

Hidayah

Apa itu hidayah? Menurut pendapat awam saya, hidayah adalah petunjuk yang masuk ke hati kita yang menggerakan kita untuk melakukan sesuatu yang kita akui kebenarannya dan manfaatnya untuk diri kita pribadi. Jika ada orang mengatakan kepada kita, “semoga Allah selalu memberimu hidayah-Nya” ini maksudnya tidak lain semoga hati kita selalu ditunjuki oleh Allah untuk mengikuti apa yang menurut Allah benar dan meninggalkan apa yang menurut Allah salah.

Contoh sederhana yaitu hidayah seorang mualaf untuk memercayai agama Islam sehingga tidak ada lagi alasan baginya untuk menunda-menunda mengucapkan kalimat syahadat. Atau hidayah seorang anak yang patuh kepada ke orang tua dengan mengharap ridho Allah. Bisa juga hidayah seorang istri yang patuh kepada suami dengan mengharap ridho Allah.

Hidayah yang akan saya bahas disini adalah hidayah yang menurut saya amat banyak dirasakaan atau mungkin sedang dicari oleh para muslimah. Yaitu hidayah untuk memutuskan menutup auratnya ketika keluar rumah atau di hadapan laki-laki yang bukan mahram.

Hidayah Untuk Menutup Aurat

Pengalaman saya dalam mendapatkan hidayah untuk menutup aurat (saya tidak bisa mengatakan istilah ‘mencari’ karena kegiatan yang saya lakukan saat itu sifatnya diwajibkan dari sekolah) dimulai sejak SD hingga SMU, di kota kelahiran saya sudah biasa diadakan pesantren kilat di bulan ramadhan atau kultum setiap jumat atau acara belajar membaca Al-qur’an baik di mesjid dekat rumah maupun di sekolah. Paparan-paparan inilah yang menurut saya cukup memengaruhi keakraban saya dengan mempelajari ilmu Islam. Yang sangat membekas tentu saja saat kami diwajibkan mencatat ceramah Ramadhan setiap hari di mesjid dekat rumah masing-masing. Logikanya dengan diwajibkan mencatat tersebut, kita jadi ‘terpaksa’  menghadiri acara di mesjid dari mulai ceramah sampai selesai shalat tarawih dan witir.  Bisa saja murid yang bandel mengambil ‘karangan’ ceramah dari buku-buku agama yang dimiliki orang tuanya. Tapi disitulah kejujuran kita sebagai murid diuji. Karena selain mencatat ceramah kita juga diwajibkan meminta cap basah mesjid dan tanda-tangan pengurus mesjid (biasanya setelah shalat witir) serta menuliskan nama si penceramah. Jika kita mau mengarang isi catatan ramadhan tersebut, otomatis kita juga harus menyiapkan kebohongan-kebohongan lainnya yang tentu saja selain jelas berdosa juga sangat merepotkan. Jadi memang jujur itu lebih mudah ^_^.

Singkat kata suatu malam saat saya masih kelas 2 SMU, saya mendengar seorang penceramah mengemukakan tentang kewajiban seorang muslimah menutup aurat  juga tentang pergaulan antara lawan jenis dalam Islam. Bagaimana pacaran itu berdosa dsb. Namun saat itu yang ‘nyangkut’ ke otak saya masalah menutup aurat-nya. Tambah lagi saat siangnya di sekolah kami juga diberi pesantren kilat dan lagi-lagi penceramah yang datang memaparkan lagi hal yang sama bahkan lebih fokus ke menutup aurat saja. Beliau menyarankan tidak usah ragu untuk mencoba menutup aurat meskipun dengan ‘style’ yang sederhana dan belum sempurna setidaknya kita wajib mencoba dulu. Maksud beliau, di masa itu (dan juga sekarang sih), banyak model kerudung mulai dari yang tidak menutup dada hingga yang panjang sampai ke lutut dan betis (seperti mukena). Bagi dia tidak jadi masalah kita mau ‘mencoba’ memilih style yang mana selama tujuan awal kita yaitu ingin menutup aurat.

Jauh sebelum saya mendengar para penceramah tadi, ibu sebenarnya sudah menyuruh saya menutup aurat saat mau masuk SMU. Bahkan sampai dijanjikan ‘hadiah tertentu’ kalau saya mau ke sekolah dengan baju muslimah + kerudungnya. Namun emang dasar ‘petunjuk’ itu belum masuk ke hati saya, tetap saya menolak permintaan ibu. Memang kalau sesuatu itu datangnya dari orang lain namun bertentangan dengan keinginan hati, susah juga terlaksananya. Akhirnya ibu menyerah dan membiarkan saya memakai seragam SMU biasa yaitu kemeja lengan pendek dan rok selutut seperti pada umumnya.

Setelah kebenaran-kebenaran tadi masuk ke hati, giliran saya yang jadi risih dengan penampilan lama saya. Biasanya saya hanya pakai celana jeans dan kaos oblong atau kemeja. Kalau naik kendaraan umum, dan mayoritas penumpang di kendaraan tersebut sudah memakai baju muslimah yang rapi dengan kerudungnya saya merasa malu sekali membandingkan keadaan mereka dengan saya saat itu. Atau kalau di kendaraan itu banyak laki-lakinya, rasanya mata mereka bisa dengan bebasnya melihat aurat saya yang masih belum tertutup. Jadi memang benar malu itu sebagian dari iman.

Makanya jangan heran banyak laki-laki muslim yang suka menundukkan pandangan di depan wanita yang belum menutup aurat. Itu bukan karena mereka malu atau sombong. Mereka hanya tidak sanggup menambah dosa melihat aurat wanita yang sesungguhnya terlarang dilihat olehnya :D.

Dari kejadian-kejadian tersebut, segera saya utarakan isi hati saya ke ibu. Tentu ibu bahagia dengan keadaan saya yang akhirnya sadar dengan keinginan beliau yang sudah sejak awal menyarankan saya menutup aurat. Pertama kalinya saya pakai kerudung yaitu dengan memberdayakan resources yang ada saat itu yaitu celana jeans dan kemeja lengan panjang (yang sebelumnya dipakai tanpa kerudung) plus kerudung putih yang biasa saya pakai hanya ke sekolau pada hari Jum’at (di Padang siswa SMP dan SMU Negeri tiap hari Jum’at punya seragam khusus yaitu baju muslimah (baju kurung) yang corak dan warnanya berbeda-beda untuk tiap sekolah). Tentu saja awalnya terasa cukup aneh karena biasanya ‘terbuka’ sekarang ‘terbungkus’. Namun dengan niat yang sudah kuat dari hati akhirnya lama-lama jadi terbiasa dan merasa lebih nyaman dan percaya diri.

Semakin kesini tentu saya terus mempelajari cara menutup aurat yang benar. Betul kata penceramah di SMU waktu itu, sebaiknya coba dulu apapun stylenya. Nanti sambil jalan kita bisa mempelajari lebih dalam cara menutup aurat yang baik sehingga nilai ibadah kita lebih sempurna di mata Allah Swt. Amin YRA. 🙂

Al-Qur’an

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kehormatannya; janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak padanya. Wajib atas mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. (QS an-Nur [24]: 31).

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. (QS al-Ahzab [33]: 59).

Hadits-hadits

“Barang siapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan, maka ALLAH akan memberikan pakaian kehinaan dihari akhir nanti” (HR. Abu Daud) => Memakai hijab gaul trend masa kini boleh namun jangan berlebih-lebihan ya, modesty is the best policy

Asma Binti Abu Bakar telah menemui Rasullulah dengan memakai pakaian yang tipis. Sabda Rasullulah: “Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah berhaid tidak boleh baginya menzahirkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja.” (Riwayat Muslim dan Bukhari).

Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita, apabila telah balig (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (seraya menunjuk muka dan telapak tangannya). (HR Abu Dawud).

“Tiada seorang perempuan pun yang membuka pakaiannya bukan di rumah suaminya, melainkan dia telah membinasakan tabir antaranya dengan Allah.” (Riwayat Tirmidzi, Abu Daud dan Ibn Majah).

“Wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam neraka adalah mereka itu di dunia tidak mau menutup rambutnya daripada dilihat laki-laki yang bukan mahramnya” (HR. Bukhari & Muslim)

Kami, para wanita, diperintahkan oleh Rasulullah untuk keluar pada saat Idul Fitri dan Idul Adha, baik para gadis, wanita yang sedang haid, maupun gadis-gadis pingitan. Wanita yang sedang haid diperintahkan meninggalkan shalat serta menyaksikan kebaikan dan dakwah (syiar) kaum Muslim. Aku bertanya, “ Ya Rasulullah, salah seorang di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab. Rasulullah saw. bersabda: Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya.” (HR Muslim).

Video berikut semoga membantu meningkatkan pemahaman kita tentang mengapa muslimah wajib berjilbab 🙂

 

Advertisements

One thought on “Ramadhan dan Hidayah Untuk Menutup Aurat

  1. […] Saya berpikir, apa bedanya dakwah penceramah2 dari jaman saya SD-SMA sama yang di DKM UNPAD ini? Rasanya dari segi isi dan maksud sama saja namun PENDEKATANNYA serta WAWASAN saat menerima dakwah tersebut yang berbeda. Mungkin jika penceramah zaman saya SD ceramah hal yang sama. Saya cuma bisa melongo karena belum sepenuhnya paham maksudnya. Saat masih SD wawasan mungkin seputar nonton serial anak-anak dan main gundu/kelereng. SMP wawasan seputar majalah GADIS dan baca komik. SMA wawasan seputar les sana sini dan belajar (jujur zaman SMA saya kurang ada waktu untuk main dan berleha2 seperti di SMP). Setelah tamat kuliah tentu cara kita memandang dunia sudah tidak sama lagi dengan zaman SD-SMP-SMA dimana kita sudah 100% bertanggung jawab atas sikap kita sendiri. Istilahnya kalo kita salah, yah tanggung jawab sendiri nggak ditanggung ortu lagi. Nah kembali ke masalah dakwah yang saya terima tadi. Kok pesantren di DKM UNPAD ini langsung menancap dalam di hati dan pemahaman saya ya? Yah alasannya hanya 2 yaitu METODE/PENDEKATAN dakwahnya yang benar dan WAWASAN si penerima/objek dakwah (yaitu saya) juga sesuai. Rasanya momen itulah titik pertama kali saya betul2 mengenal Islam secara lebih mendalam (walau sudah sejak lahir mengenalnya). So?  setiap manusia punya proses/tahapan masing-masing untuk memahami Islam. Dari kecil hingga maut menjemput. Tergantung usaha masing-masing untuk mau mempelajarinya atau sibuk melakukan hal lain. Bahkan saya yang sudah memakai kerudung (menutup aurat) dari kelas 2 SMA saja, baru pas tamat kuliah itulah ‘merasa’ lebih dekat dan yakin dengan Islam. Jadi jangan berpikir orang sudah menutup aurat berarti sudah sempurna (paham Islam dengan mumpuni) dan tanpa cela. Menutup aurat itu wajib dilakukan dan sudah pasti berpahala, namun bukan akhir dari perjalanan spiritual seseorang dan nggak serta merta menjamin dia masuk surga kalau ibadah2 lain tidak dipertahankan/ditambah (menurut saya ya..). Menutup aurat sudah menghindari seorang muslimah dari dosa memperlihatkan aurat kepada yang bukan mahram. Kisah awalnya saya sehingga akhirnya hijrah dan menutup aurat akan saya ceritakan di postingan blog berikutnya. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s