Taat pada Pemimpin yang Zholim

Banyak cara dilakukan seseorang atau sekelompok orang dalam menghadapi pemimpin yang zalim dan tidak adil kepada rakyatnya. Ada yang melakukan kudeta, demonstrasi, mengirim surat dan lain sebagainya. Bagaimana seorang muslim sebaiknya bersikap dalam menghadapi kezaliman pemimpin? Tentu saja semua sudah diberikan solusinya oleh Nabi kita.

Kezaliman pemimpin bisa saja โ€˜bersumberโ€™ dari ketidaktaatan rakyat yang dipimpin. Jika suatu masyarakat terdiri dari individu-individu yang jarang mengingat Allah atau bahkan mendustakan Al-Qurโ€™an dan hadits, sudah sewajarnya Allah pun tidak menurunkan Rahmat-Nya kepada rakyat tersebut berupa pemimpin yang adil dan bijaksana. Atau boleh jadi jika mereka taat kepada Allah, keberadaan pemimpin yang zalim akan menguji kesabaran dan keimanan mereka untuk berpegang teguh pada perintah Allah meskipun keadaannya sulit. Tentu pahala yang diperoleh nilainya akan lebih besar. Secara logika apakah sama nilai ibadah seorang muslim yang sedang ditekan pemerintahnya sendiri di Suriah dengan ibadah seorang muslim yang hidup damai di Indonesia atau Malaysia? Tentu saja tidak.

Setiap kita tentu ingin hidup tenang dan damai, bisa melakukan aktifitas tanpa gangguan berarti termasuk aktifitas ibadah. Nah bayangkan perasaan was-was yang dialami penduduk muslim yang tinggal di daerah konflik. Maut setiap detik mengintai mereka karena kapanpun dimanapun rudal bisa saja jatuh di dekatnya beraktifitas dan merenggut nyawanya. Untuk itu saya menilai penduduk muslim di daerah konflik ini tentu ketawakalannya sangat teruji karena tidak ada yang bisa dilakukan selain tawakal terhadap nasibnya hari ini. Sedangkan kita yang bukan di daerah konflik ya macam-macam mungkin ada yang tawakal ada juga yang tidak karena jarang dihadapkan pada kondisi yang betul-betul mengancam keselamatan jiwa. ย Namun belajar dari konflik yang dialami negara lain harusnya kita bersyukur dengan lingkungan yang kita peroleh saat ini dan berdoa agar saudara-saudara kita segera memperoleh keadilan dan kondisi aman di tempat tinggalnya masing-masing. Pihak-pihak yang berseteru bisa damai atau yang memang sengaja melakukan kerusakan dapat dikalahkan atas izin Allah Swt.

 

Berikut ini salinan tulisan ย Taat pada Pemimpin yang Zholim yang saya ambilย dariย www.rumaysho.com

 

Islam lewat lisan Nabinya telah mengajarkan bagaimana kita bermuamalah dengan pemerintah atau penguasa. Sebagian kalangan bersikap keras sehingga mudah mengkafirkan. Sebagian lagi bersikap lembek. Sikap terbaik yang menjadi akidah seorang muslim adalah tetap menasehati penguasanya dengan baik tatkala mereka tergelincir. Penyampaian nasehat ini pula disalurkan dengan cara yang baik, bukan dengan menyebarkan aib mereka di depan umum. Juga prinsip penting dalam muamalah dengan penguasa adalah tetap mentaati mereka selama mereka masih muslim, walaupun mereka berbuat zholim. Berikut nasehat Nabi kita -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- dan para ulama dalam hal ini.

Dari Abu Najih, Al โ€˜Irbadh bin Sariyahย radhiyallahu โ€˜anhu, ia berkata

โ€œRasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan menjadikan air mata berlinangโ€. Kami (para sahabat) bertanya, โ€œWahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan adalah nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat.โ€ Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฃููˆู’ุตููŠู’ูƒูู…ู’ ุจูุชูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽุฒูŽู‘ูˆูŽุฌูŽู„ูŽู‘ , ูˆูŽุงู„ุณูŽู‘ู…ู’ุนู ูˆูŽุงู„ุทูŽู‘ุงุนูŽุฉู ูˆูŽุฅูู†ู’ ุชูŽุฃูŽู…ูŽู‘ุฑูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุนูŽุจู’ุฏูŒ

โ€œSaya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah โ€˜azza wa jalla, tetap mendengar dan taโ€™at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak)โ€. (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)

 

Mentaati Pemimpin dalam Kebajikan

Taโ€™at kepada pemimpin adalah suatu kewajiban sebagaimana disebutkan dalam Al Kitab dan As Sunnah. Di antaranya Allah Taโ€™ala berfirman,

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ุฃูŽุทููŠุนููˆุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูˆูŽุฃูŽุทููŠุนููˆุง ุงู„ุฑูŽู‘ุณููˆู„ูŽ ูˆูŽุฃููˆู„ููŠ ุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุฑู ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’

โ€œHai orang-orang yang beriman, taโ€™atilah Allah dan taโ€™atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.โ€ (QS. An Nisaโ€™ [4] : 59)

Dalam ayat ini Allah menjadikan ketaatan kepada pemimpin pada urutan ketiga setelah ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Namun, untuk pemimpin di sini tidaklah datang dengan lafazh โ€˜taโ€™atilahโ€™ karena ketaatan kepada pemimpin merupakan ikutan (taabiโ€™) dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Oleh karena itu, apabila seorang pemimpin memerintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah, maka tidak ada lagi kewajiban dengar dan taโ€™at.

Makna zhohir (tekstual) dari hadits ini adalah kita wajib mendengar dan taโ€™at kepada pemimpin walaupun mereka bermaksiat kepada Allah dan tidak menyuruh kita untuk berbuat maksiat kepada Allah. Karena terdapat hadits Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dari Hudzaifah bin Al Yaman.

Beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ยซ ูŠูŽูƒููˆู†ู ุจูŽุนู’ุฏูู‰ ุฃูŽุฆูู…ูŽู‘ุฉูŒ ู„ุงูŽ ูŠูŽู‡ู’ุชูŽุฏููˆู†ูŽ ุจูู‡ูุฏูŽุงู‰ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุณู’ุชูŽู†ูู‘ูˆู†ูŽ ุจูุณูู†ูŽู‘ุชูู‰ ูˆูŽุณูŽูŠูŽู‚ููˆู…ู ูููŠู‡ูู…ู’ ุฑูุฌูŽุงู„ูŒ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ู‚ูู„ููˆุจู ุงู„ุดูŽู‘ูŠูŽุงุทููŠู†ู ููู‰ ุฌูุซู’ู…ูŽุงู†ู ุฅูู†ู’ุณู ยป. ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูู„ู’ุชู ูƒูŽูŠู’ููŽ ุฃูŽุตู’ู†ูŽุนู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฅูู†ู’ ุฃูŽุฏู’ุฑูŽูƒู’ุชู ุฐูŽู„ููƒูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ุชูŽุณู’ู…ูŽุนู ูˆูŽุชูุทููŠุนู ู„ูู„ุฃูŽู…ููŠุฑู ูˆูŽุฅูู†ู’ ุถูุฑูุจูŽ ุธูŽู‡ู’ุฑููƒูŽ ูˆูŽุฃูุฎูุฐูŽ ู…ูŽุงู„ููƒูŽ ููŽุงุณู’ู…ูŽุนู’ ูˆูŽุฃูŽุทูุนู’ ยป.

โ€œNanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. โ€œ

Aku berkata, โ€œWahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?โ€

Beliau bersabda, โ€Dengarlah dan taโ€™at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan taโ€™at kepada mereka.โ€ (HR. Muslim no. 1847. Lihat penjelasan hadits ini dalam Muroqotul Mafatih Syarh Misykah Al Mashobih, 15/343, Maktabah Syamilah)

 

Padahal menyiksa punggung dan mengambil harta tanpa ada sebab yang dibenarkan oleh syariโ€™at โ€“tanpa ragu lagi- termasuk maksiat. Seseorang tidak boleh mengatakan kepada pemimpinnya tersebut, โ€œSaya tidak akan taโ€™at kepadamu sampai engkau menaati Rabbmu.โ€ Perkataan semacam ini adalah suatu yang terlarang. Bahkan seseorang wajib menaati mereka (pemimpin) walaupun mereka durhaka kepada Rabbnya.

Adapun jika mereka memerintahkan kita untuk bermaksiat kepada Allah, maka kita dilarang untuk mendengar dan mentaati mereka. Karena Rabb pemimpin kita dan Rabb kita (rakyat) adalah satu yaitu Allah Taโ€™ala oleh karena itu wajib taโ€™at kepada-Nya. Apabila mereka memerintahkan kepada maksiat maka tidak ada kewajiban mendengar dan taโ€™at.

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู„ุงูŽ ุทูŽุงุนูŽุฉูŽ ููู‰ ู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉู ุŒ ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ุงู„ุทูŽู‘ุงุนูŽุฉู ููู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆูู

โ€œTidak ada kewajiban taโ€™at dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang maโ€™ruf (bukan maksiat).โ€ (HR. Bukhari no. 7257)

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam juga bersabda,

ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุกู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุŒ ูููŠู…ูŽุง ุฃูŽุญูŽุจูŽู‘ ูˆูŽูƒูŽุฑูู‡ูŽ ุŒ ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูุคู’ู…ูŽุฑู’ ุจูู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉู ุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฃูู…ูุฑูŽ ุจูู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉู ููŽู„ุงูŽ ุณูŽู…ู’ุนูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ุทูŽุงุนูŽุฉูŽ

โ€œSeorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.โ€ (HR. Bukhari no. 7144)

(Pembahasan ini kami sarikan dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Syarh Arbaโ€™in An NAwawiyah, hal. 279, Daruts Tsaroya)

 

Bersabarlah terhadap Pemimpin yang Zholim

Ibnu Abil โ€˜Izz mengatakan,

โ€œHukum mentaati pemimpin adalah wajib, walaupun mereka berbuat zholim (kepada kita). Jika kita keluar dari mentaati mereka maka akan timbul kerusakan yang lebih besar dari kezholiman yang mereka perbuat. Bahkan bersabar terhadap kezholiman mereka dapat melebur dosa-dosa dan akan melipat gandakan pahala. Allah Taโ€™ala tidak menjadikan mereka berbuat zholim selain disebabkan karena kerusakan yang ada pada diri kita juga. Ingatlah, yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan (al jazaโ€™ min jinsil โ€˜amal). Oleh karena itu, hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam istigfar dan taubat serta berusaha mengoreksi amalan kita.

Perhatikanlah firman Allah Taโ€™ala berikut,

ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽุตูŽุงุจูŽูƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ ู…ูุตููŠุจูŽุฉู ููŽุจูู…ูŽุง ูƒูŽุณูŽุจูŽุชู’ ุฃูŽูŠู’ุฏููŠูƒูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽุนู’ูููˆ ุนูŽู†ู’ ูƒูŽุซููŠุฑู

โ€œDan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).โ€ (QS. Asy Syura [42] : 30)

ุฃูŽูˆูŽู„ูŽู…ูŽู‘ุง ุฃูŽุตูŽุงุจูŽุชู’ูƒูู…ู’ ู…ูุตููŠุจูŽุฉูŒ ู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุตูŽุจู’ุชูู…ู’ ู…ูุซู’ู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ู‚ูู„ู’ุชูู…ู’ ุฃูŽู†ูŽู‘ู‰ ู‡ูŽุฐูŽุง ู‚ูู„ู’ ู‡ููˆูŽ ู…ูู†ู’ ุนูู†ู’ุฏู ุฃูŽู†ู’ููุณููƒูู…ู’

โ€œDan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: โ€œDari mana datangnya (kekalahan) ini?โ€ Katakanlah: โ€œItu dari (kesalahan) dirimu sendiriโ€.โ€ (QS. Ali Imran [3] : 165)

ู…ูŽุง ุฃูŽุตูŽุงุจูŽูƒูŽ ู…ูู†ู’ ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู ููŽู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽุตูŽุงุจูŽูƒูŽ ู…ูู†ู’ ุณูŽูŠูู‘ุฆูŽุฉู ููŽู…ูู†ู’ ู†ูŽูู’ุณููƒูŽ

โ€œApa saja niโ€™mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.โ€ (QS. An Nisaโ€™ [4] : 79)

Allahย Taโ€™alaย juga berfirman,

ูˆูŽูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ู†ููˆูŽู„ูู‘ูŠ ุจูŽุนู’ุถูŽ ุงู„ุธูŽู‘ุงู„ูู…ููŠู†ูŽ ุจูŽุนู’ุถู‹ุง ุจูู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ููˆุง ูŠูŽูƒู’ุณูุจููˆู†ูŽ

โ€œDan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.โ€ (QS. Al Anโ€™am [6] : 129)

Apabila rakyat menginginkan terbebas dari kezholiman seorang pemimpin, maka hendaklah mereka meninggalkan kezholiman.

(Inilah nasehat yang sangat bagus dari seorang ulama Robbani. Lihat Syarh Aqidah Ath Thohawiyah, hal. 381, Darul โ€˜Aqidah)

Ingatlah: Semakin Baik Rakyat, Semakin Baik Pula Pemimpinnya

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan,

โ€œSesungguhnya di antara hikmah Allah Taโ€™ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zholim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zholim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat. Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.

Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Muโ€™awiyah, Umar bin Abdul Azis, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah Taโ€™ala.โ€ (Lihat Miftah Daaris Saโ€™adah, 2/177-178)

Pada masa pemerintahan โ€˜Ali bin Abi Tholib radhiyallahu โ€˜anhu ada seseorang yang bertanya kepada beliau, โ€œKenapa pada zaman kamu ini banyak terjadi pertengkaran dan fitnah (musibah), sedangkan pada zaman Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tidak?

Ali menjawab,

โ€œKarena pada zaman Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam yang menjadi rakyatnya adalah aku dan sahabat lainnya. Sedangkan pada zamanku yang menjadi rakyatnya adalah kalian.โ€

Oleh karena itu, untuk mengubah keadaan kaum muslimin menjadi lebih baik, maka hendaklah setiap orang mengoreksi dan mengubah dirinya sendiri, bukan mengubah penguasa yang ada. Hendaklah setiap orang mengubah dirinya yaitu dengan mengubah aqidah, ibadah, akhlaq dan muamalahnya. Perhatikanlah firman Allah Taโ€™ala,

ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ู„ูŽุง ูŠูุบูŽูŠูู‘ุฑู ู…ูŽุง ุจูู‚ูŽูˆู’ู…ู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูุบูŽูŠูู‘ุฑููˆุง ู…ูŽุง ุจูุฃูŽู†ู’ููุณูู‡ูู…ู’

โ€œSesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiriโ€ (QS. Ar Raโ€™du [13] : 11) (Dinukil dari buku Ustadz Yazid bin Abdil Qodir Jawas, Nasehat Perpisahan, hadits Al โ€˜Irbadh)

 

Menegakkan Negara Islam

Ada seorang daโ€™i saat ini berkata,

ุฃูŽู‚ููŠู’ู…ููˆู’ุง ุฏูŽูˆู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ุฅูุณู’ู„ุงูŽู…ู ูููŠ ู‚ูู„ููˆู’ุจููƒูู…ู’ุŒ ุชูŽู‚ูู…ู’ ู„ูŽูƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽุฑู’ุถููƒูู…ู’

โ€œTegakkanlah Negara Islam di dalam hati kalian, niscaya negara Islam akan tegak di bumi kalian.โ€

Bukanlah jalan melepaskan diri dari kezoliman penguasa adalah dengan mengangkat senjata melalui kudeta yang termasuk bidโ€™ah pada saat ini. Pemberontakan semacam ini telah menyelisihi nash-nash yang memerintahkan untuk merubah diri sendiri terlebuh dahulu dan membangun bangunan dari pondasi (dasar). Allah Taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽู„ูŽูŠูŽู†ู’ุตูุฑูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽู†ู’ุตูุฑูู‡ู ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ู„ูŽู‚ูŽูˆููŠูŒู‘ ุนูŽุฒููŠุฒูŒ

โ€œSesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.โ€ (QS. Al Hajj [22] : 40)

Jalan keluar dari kezholiman penguasa โ€“di mana kulit mereka sama dengan kita dan berbicara dengan bahasa kita- adalah dengan :

1. Bertaubat kepada Allah Taโ€™ala

2. Memperbaiki aqidah

3. Mendidik diri dan keluarga dengan ajaran Islam yang benar

(At Taโ€™liqot Al Atsariyah โ€˜alal Aqidah Ath Thohawiyah li Aimmati Daโ€™wah Salafiyah, 1/42, Maktabah Syamilah)

Oleh karena itu, setiap daโ€™i yang ingin mendakwahkan islam hendaklah memulai dakwahnya dengan dakwah tauhid. Inilah dakwah para Nabi dan dakwah pertama yang Nabi perintahkan kepada daโ€™i dari kalangan sahabat untuk menyampaikannya kepada umat. Para sahabat tidaklah diperintahkan untuk menegakkan khilafah islamiyah terlebih dahulu atau menguasai pemerintahan melalui politik. Namun, dakwah yang beliau perintah untuk disampaikan pertama kali adalah dakwah tauhid.

Lihatlah nasehat beliau shallahu โ€˜alaihi wa sallam ketika beliau mengutusnya ke Yaman โ€“negeri Ahli Kitab-,

ุฅูู†ูŽู‘ูƒูŽ ุชูŽู‚ู’ุฏูŽู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู‚ูŽูˆู’ู…ู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ูƒูุชูŽุงุจู ุŒ ููŽู„ู’ูŠูŽูƒูู†ู’ ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ูŽ ู…ูŽุง ุชูŽุฏู’ุนููˆู‡ูู…ู’ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุนูุจูŽุงุฏูŽุฉู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุนูŽุฑูŽูููˆุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ููŽุฃูŽุฎู’ุจูุฑู’ู‡ูู…ู’ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ู‚ูŽุฏู’ ููŽุฑูŽุถูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุฎูŽู…ู’ุณูŽ ุตูŽู„ูŽูˆูŽุงุชู ููู‰ ูŠูŽูˆู’ู…ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽูŠู’ู„ูŽุชูู‡ูู…ู’

โ€œSesungguhnya engkau akan mendatangi kaum Ahli Kitab. Jadikanlah dakwah pertamamu kepada mereka adalah untuk beribadah kepada Allah (mentauhidkannya). Apabila mereka sudah mentauhidkan Allah, beritahukanlah mereka bahwa Allah mewajibkan shalat lima waktu sehari semalam kepada mereka.โ€ (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Jauhilah Pertumpahan Darah

Kita harus memperhatikan kewajiban mendengar dan taat kepada penguasa. Karena, bila kita tidak mentaati mereka, maka akan terjadi kekacauan, pertumpahan darah dan terjadi korban pada kaum muslimin. Ingatlah bahwa darah kaum muslimin itu lebih mulia daripada hancurnya dunia ini. Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู„ูŽุฒูŽูˆูŽุงู„ู ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุง ุฃูŽู‡ู’ูˆูŽู†ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุชู’ู„ู ุฑูŽุฌูู„ู ู…ูุณู’ู„ูู…ู

โ€œHancurnya dunia ini lebih ringan (dosanya) daripada terbunuhnya seorang muslim.โ€ (HR. Tirmidzi)

Allahย Taโ€™alaย berfirman,

ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุชูŽู„ูŽ ู†ูŽูู’ุณู‹ุง ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ู†ูŽูู’ุณู ุฃูŽูˆู’ ููŽุณูŽุงุฏู ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ููŽูƒูŽุฃูŽู†ูŽู‘ู…ูŽุง ู‚ูŽุชูŽู„ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณูŽ ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุง

โ€œBarangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain , atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.โ€ (QS. Al Maโ€™idah [5] : 32)

Sekarang kita dapat menyaksikan orang-orang yang memberontak kepada penguasa. Mereka hanya mengajak kepada pertumpahan darah dan banyak di antara kaum muslimin yang tidak bersalah menjadi korban.

Yang wajib dan terbaik adalah mendengar dan mentaati mereka. Namun bukan berarti tidak ada amar maโ€™ruf nahi mungkar. Hal itu tetap ada tetapi harus dilakukan menurut kaedah yang telah ditetapkan oleh syariโ€™at yang mulia ini.

Hendaklah Kita Mendoakan Pemimpin Kita

Sebagaimana dalam penjelasan yang telah lewat bahwa pemimpin adalah cerminan rakyatnya. Jika rakyat rusak, maka pemimpin juga akan demikian. Maka hendaklah kita selalu mendoโ€™akan pemimpin kita dan bukanlah mencelanya. Karena doโ€™a kebaikan kita kepada mereka merupakan sebab mereka menjadi baik sehingga kita juga akan ikut baik. Ingatlah pula bahwa doโ€™a seseorang kepada saudaranya dalam keadaan saudaranya tidak mengetahuinya adalah salah satu doโ€™a yang terkabulkan.

Rasulullahย shallallahu โ€˜alaihi wa sallamย bersabda,

ุฏูŽุนู’ูˆูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุกู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ู„ุฃูŽุฎููŠู‡ู ุจูุธูŽู‡ู’ุฑู ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุจู ู…ูุณู’ุชูŽุฌูŽุงุจูŽุฉูŒ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฑูŽุฃู’ุณูู‡ู ู…ูŽู„ูŽูƒูŒ ู…ููˆูŽูƒูŽู‘ู„ูŒ ูƒูู„ูŽู‘ู…ูŽุง ุฏูŽุนูŽุง ู„ุฃูŽุฎููŠู‡ู ุจูุฎูŽูŠู’ุฑู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽู„ูŽูƒู ุงู„ู’ู…ููˆูŽูƒูŽู‘ู„ู ุจูู‡ู ุขู…ููŠู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽูƒูŽ ุจูู…ูุซู’ู„ู

โ€œDoโ€™a seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah doโ€™a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang memiliki tugas mengaminkan doโ€™anya kepada saudarany, pen). Ketika dia berdoโ€™a kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang sama dengannya.โ€ (HR. Muslim no. 2733)

Sampai-sampai sebagian salaf mengatakan:

Seandainya aku mengetahui bahwa aku memiliki doโ€™a yang mustajab, niscaya akan aku manfaatkan untuk mendoโ€™akan pemimpin.

Masya Allah inilah akhlaq yang mulia. Selalu mentaati pemimpin selain dalam hal maksiat. Dengan inilah akan tercipta kemaslahatan di tengah-tengah kaum muslimin.

Semoga Allah selalu memperbaiki keadaan pemimpin kita. Amin Ya Robbal โ€˜Alamin.

โ€œYa Allah, berilah kemanfaatan kepada kami terhadap apa yang kami ajarkan dan ajarkanlah pada kami ilmu yang bermanfaat serta tambahkanlah ilmu pada kami.โ€

Alhamdulillahilladzi bi niโ€™matihi tatimmush sholihaat. Allahumman faโ€™ana bimaa โ€˜allamtana, wa โ€˜alimna maa yanfaโ€™una wa zidnaa โ€˜ilmaa. Wa shallallahu โ€˜ala nabiyyina Muhammad wa โ€˜ala alihi wa shohbihi wa sallam.

โ€”

Tulisan lawas, diedit ulang di Madinah Nabawiyah, Jumโ€™at-13 Rabiโ€™ul Awwal 1434 H

www.rumaysho.com

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s