Working Mom vs Full Time Mom

Jaman sekarang ada aja yang diperdebatkan orang ya. Mulai dari perdebatan capres cawapres sampai ibu bekerja vs ibu full di rumah. Kalo saya masuk kategori mana yah? Hmm dibilang bekerja saya juga nggak tiap hari dari senin-jumat menghabiskan waktu di ‘kantor’. Pernah sih dulu pas masih single jadi statusnya bukan working mom tapi working single woman kali yak? Dibilang full di rumah juga ada saatnya dimana saya seharian di luar rumah mencari / produksi pesanan customer.

Masalah si ibu mau kerja atau tidak kerja itu tergantung pada kondisi masing-masing keluarga terutama suami. Karena mau berdebat sampai kiamatpun nggak ada yang bisa mematahkan fakta bahwa untuk seorang wanita menikah  ridho Allah itu ya tergantung ridho suami (silahkan googling deh bagi yang masih suka ngelawan ke suami^^). Berbeda dengan laki-laki menikah dimana ridho Allah itu masih tergantung ridho ayah-ibunya (terutama ibu).

Kalau kisah saya pribadi saya memang memutuskan resign sebelum menikah. Apakah karena perintah calon suami? Kayaknya tidak sama sekali, keputusan berhenti jadi ‘orang kantoran’ 100% dari diri sendiri. Suami sendiri pas saya tanya ‘berniat’ menyuruh saya berhenti setelah kami menikah 3 tahun.  Intinya tidak akan membiarkan saya berlama-lama kerja di luar dan prioritas harus dipindahkan ke rumah tangga setelah 3 tahun itu.

Pernah saya baca di komen Facebook, seorang FTM atau IRT yang ‘mengeluh’ seolah-olah keputusan berhenti bekerja demi keluarga sesuatu yang berat. Lho bukannya beban hidupnya malah jadi ringan ya yang tadinya mikiran 2 hal bersamaan (kantor+rumah) sekarang tinggal sebelah saja. Mungkin beratnya dari sisi financial kali ya? Yang tadinya setiap bulan bisa shopping ke Mall jadi nggak bisa. Kalo gitu jangan salahkan menjadi IRT-nya salahkan budaya hidup kita yang ‘mungkin’ selama ini masih konsumtif. Hidup hemat dan sederhana juga nggak ada salahnya dicoba dan mungkin lebih berkah karena niat berhenti kerja kan demi keluarga yang ‘balasan’nya surga.

Setiap orang butuh uang, itu pasti tapi setiap orang juga punya skala prioritas. Kalau saya sih karena pada dasarnya tidak begitu terbiasa hidup konsumtif dan membeli banyak barang jadi bekerja dan berhenti kerja masih sama-sama aja rasanya (nggak ada keluhan sampai sekarang). Tambah lagi dapat suami yang gaya hidupnya selama single lebih hemat dari saya jadilah kami sepasang suami istri yang nggak gitu sering belanja (kecuali makanan/cemilan itu mah rutin ya).

Setelah resign saya jadi lebih fokus mengurus suami plus mengurus bisnis yang saya rintis saat masih bekerja dulu. Awal mulanya bisnis ini berdiri karena kebetulan saja alias iseng plus kebosanan dengan rutinitas kerja yang itu-itu saja dan waktunya terasa banyak yang kosong alias idle. Eh lama-lama malah keterusan. Apakah saya berhenti karena penghasilan di bisnis > gaji kantor? Nggak juga karena yang saya cari dari berbisnis lebih ke fleksibilitas waktunya dibanding kerja kantor yang saklek 5hari/minggu bahkan jika ada dinas luar sehingga bisa meninggalkan rumah lebih dari 24 jam. Jadi? Saya memilih jadi WM apa FTM? Kalo saya sih mau kedua-duanya tapi saya WM yang tempat dan waktu kerjanya suka-suka saya bukan yang harus di kantor sepanjang hari, 5x seminggu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s