Pengalaman Melahirkan Anak Pertama (1)

Hari ini, 13 Maret 2015, anak pertama saya Baby sudah menginjak usia 3 bulan 1 hari (Lahir 12 Desember 2014). Mungkin kalo masih menyandang status wanita karir, Baby udah harus saya tinggal seharian dari pagi hingga sore sejak 1 bulan yang lalu. Tidak terbayang beratnya para ibu baru melepas bayinya yang baru 2 bulan ke pengasuh atau keluarga dekat. Kebetulan sejak awal Februari (pas Baby baru berumur 1,5 bulan) kami sudah tidak dibantu siapa-siapa lagi untuk mengurus Baby. Jadilah suami banyak mengambil alih pekerjaan domestik di sisa kesibukannya seharian di kantor. Mulai dari masak, cuci piring, baju hingga setrika. Untung yang disetrika cukup baju kantor suami. Sedangkan saya fokus mengurus Baby sambil bantu2 mana yang bisa jika kebetulan Baby tidur/ lagi anteng.

Hari Perkiraan Lahir (HPL) Baby menurut Dokter Kandungan seharusnya tanggal 26 Desember 2014, namun karena tanggal 11 Desember 2014 jam 8.30 saya mengalami Ketuban Pecah Dini (KPD) buru-buru lah kami ke RS terdekat (swasta). Di RS saya di observasi hingga sore namun belum ada tanda-tanda bayi bisa lahir normal dan Dokter saat itu tetap mengharuskan operasi SC. Suami saya, setelah berkonsultasi dengan keluarganya yang juga Dokter, memutuskan membawa saya ke RS** (pemerintah), karena dinilai di situ perlengkapan medisnya terlengkap se Indonesia. Tebak sendiri ajalah ** itu huruf apa ya dari clue barusan ^^. Niatnya pindah RS sih untuk cari 2nd opinion agar tetap bisa lahiran normal.

Setelah mengarungi kemacetan ibukota, karena kami baru menuju RS** pas jam orang pulang kantor, akhirnya saya masuk ke IGD RS**. Dari pemeriksaan disana juga Dokter tetap mengharuskan kami operasi SC karena air ketuban sudah terlalu sedikit untuk normal. Kalo dalam bahasa medisnya Angka ICA/Indeks Cairan Amnion kandungan saya udah tinggal 3 (artinya ketebalan cairan air ketuban tinggal 3cm), sedangkan untuk lahiran normal minimal harus 10. Ok, akhirnya suami setuju saya akhirnya harus di operasi SC demi menyelamatkan si baby. Jumat, 12 Desember 2014, pukul 00.55, Baby lahir dengan berat 2,8 kg dan panjang 47 cm. Termasuk kecil, maklum cepat 2 minggu dari HPL. Tapi saya tetap bersyukur KPD-nya terjadi saat usia janin udah lewat dari 36 minggu.

Kesan saya melahirkan anak pertama emang terasa mimpi aja, karena semua terasa mendadak. Apalagi di RS**, setelah masuk ruang inap, pelayanannya tentu tidak sebagus RS swasta. RS** tampaknya ga begitu care dengan IMD jadilah Baby puasa dari sejak lahir Jum`at dini hari hingga Minggu pagi. Kalo dihitung sekitar 58jam. Entah kenapa, karena saya hanya berdua dengan Baby di Ruang Rawat Inap, dan petugas RS juga tidak rutin memeriksa kondisi kami, pikiran saya blank mengenai ASI di hari awal kami dipindahkan ke Ruangan. Apalagi pasca operasi saya TIDAK BOLEH DUDUK selama 12 jam, serta TIDAK BOLEH BERDIRI/TURUN DARI BED selama 24 jam.

Dengan kondisi begitu bayi ditidurkan di box di sebelah bed saya dan tidak ada satu anggota keluarga pun yang boleh menemani kami di luar jam besuk. Anehnya tidak pula ada suster yang stand by di dekat kami. Boro-boro mau IMD, mengangkat bayi aja saya belum sanggup. CUKUP SEKALI aja deh melahirkan di RS**. Untungnya Sabtu malam Baby menangis dengan sangat kencangnya karena kelaparan, barulah saya sadar ASI harus segera dihisap atau diperah dan diberikan ke Baby. Lelet banget ya?? Emangnya bayi bisa kenyang dengan digendong2 doank? Bukannya saya lupa tapi kondisi fisik yang masih lemah membuat saya blank ga tau mau ngapain.  Akhirnya suster di RS memberiku semacam penarik puting/pompa ASI (yang aslinya spet bekas suntikan besar yang jarumnya sudah dilepas) plus botol kaca penampung (beli sih). Namun karena terasa masih sakit, acara pompa memompa saya hentikan karena kelelahan dan akhirnya tertidur hingga Minggu pagi. Pas Minggu pagi inilah akhirnya ada suster lain yang langsung membantu memerah ASI sehingga akhirnya Baby berbuka dari puasa panjangnya sejak Jum’at dini hari pas baru lahir.  Untungnya kubaca-baca bayi bisa bertahan tanpa asupan makanan hingga 3×24 jam setelah lahiran, karena masih memiliki cadangan makanan yang dibawa saat masih dalam kandungan.

Senin siang, kami pulang ke rumah dan masalah baru yaitu menyuapi Baby dengan ASIP karena dia belum mahir menghisap PD yang nipplenya masih inverted. Perkara memompa itu udah satu urusan yang cukup melelahkan, ditambah lagi menyuapi ASIP dengan sendok setiap 2 jam yang selain memakan waktu lama, juga pada saat diberikan sering tumpah2/ dikeluarkan lagi sehingga nggak banyak yang bisa masuk ke perut Baby. Dampak dari kesulitan memberikan ASI di awal ini berujung pada tingginya Bilirubin Baby saat cek up di usia 10 hari. Ibu saya akhirnya menyarankan untuk memberi ASIP lewat botol, agar lebih banyak dan cepat masuknya sehingga Bilirubin Baby bisa segera turun. Masalah bingung puting bukan jadi prioritas kami saat itu.

Bersambung

Advertisements

2 thoughts on “Pengalaman Melahirkan Anak Pertama (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s