Review ERGOBABY

Menyambung postingan sebelumnya tentang gendong-menggendong. Setelah surfing kesana kemari, akhirnya saya memutuskan untuk hunting gendongan jenis Soft Structured Carrier (SSC). Ciri khas gendongan ini adalah bagian tali bahu dan pinggang yang dilapisi busa/foam (biasanya PUR atau EVA) atau istilah asingnya padded shoulder and waist strap. Sekilas mirip tali pada tas laptop merk bodypa**. Bagian panel gendongan biasanya terdiri dari lapisan tipis paduan bahan katun dan kanvas. Mayoritas merk SSC ternama berasal dari USA sebut saja Boba, Ergobaby, Beco, Pikkolo, BabyBjorn, Tula, Kinderpack dll. (tetap saja, sebagian besar produksinya di China, kecuali Merk Tula (Poland dan Mexico) dan Kinderpack (USA)). Ada juga SSC produkan Jerman yaitu Manduca, produkan Korea yaitu Pognae dan produkan Indonesia yaitu CuddleMe dan Andrea. Nah semakin banyak merk SSC, maka semakin bingung mau memilih yang mana. Apalagi tiap gendongan punya spek tersendiri yang mungkin cocok bagi satu orang tapi belum tentu cocok bagi yang lain. Secara umum sih sebenarnya mirip-mirip aja, cuma ada detil2 tertentu yang mungkin nyaman bagi kita tapi ga nyaman bagi orang atau sebaliknya.

Berikut ini saya akan mencoba menceritakan perbandingan 3 merk SSC yang sudah pernah saya ‘cicipi’ yaitu Ergobaby Original, Pognae¬†Baby Carrier¬†dan Beco Gemini. Tapi karena kepanjangan jadi akan saya bagi jadi 3 postingan, didahului dengan Ergobaby.

Ergobaby Original (ini yang Asli bukan yang KW ya..)

CAM01840

Ergobaby Original (EO) ini adalah SSC perdana yang saya coba. Siapa sih yang nggak kenal dengan merk satu ini. Saingan terberatnya kalo di Indonesia kayaknya cuma Boba karena harganya nggak jauh beda (lebih murah Boba). Kesan saya setelah mencoba EO, cukup nyaman dan gampang digunakan. Dan warna hitamnya membuat penampilan saya saat menggendong jadi kelihatan lebih cool ūüôā

Kelebihan EO yaitu :

Pertama pilihan motif dan warna gendongan cukup banyak jadi memang merk ini memberi kepuasan tersendiri bagi ortu yang ingin memilih¬†motif/warna favoritnya. Tapi entah kenapa saya udah kadung jatuh cinta dengan warna hitam ini. Lebih cool aja rasanya daripada yang warna warni. Lebih netral juga kalo sedang dipake ayahnya ūüôā

Kedua terdapat 2 buah kantong yang amat bermanfaat buat ibu yang tidak mau rempong pegang2 tas atau dompet sambil menggendong anak. Kantong pertama berukuran cukup besar dengan resleting samping. Kantong kedua berukuran lebih kecil, berada di atas kantong pertama dan tidak ada resleting (terbuka ke atas). Fungsi utama kantong kecil ini untuk menyimpan sebagian gulungan sleeping hood saat tidak digunakan.

Ketiga¬†ada sleeping hood yang praktis untuk menutupi kepala si kecil dari panas atau sebagai ‘sandaran’ saat dia tertidur.

Keempat produk aslinya cukup mudah diperoleh di Indonesia. Bandingkan dengan merk Tula atau Kinderpack yang bahkan di USA sendiri sering sulit didapat karena cepat sold out. Sayangnya banyak juga toko online/offline yang menawarkan gendongan Ergobaby versi KW (tiruannya). Bahkan ada review blog yang mengatakan versi KW nya lebih bagus dari aslinya (please deh dimana2 yang asli tentu lebih baik dan safe daripada tiruannya). Untuk tahu perbedaan yang asli dan yang tiruan coba cek disini. Kalau emang niat beli, bisa tanya via email ke ergobaby di USA toko mana saja yang merupakan distributor resmi mereka disini. Setahu saya bayitembem.com cukup terpercaya karena di mention disini oleh Manduca Singapore. Logikanya kalo mereka jual Manduca asli ga mungkin donk jual Ergobaby malah yang KW :).

Kelima cukup mudah dipakai dan nyaman bagi bayi dan penggendong. 

Kekurangan EO in my humble opinion (IMHO) yaitu :

Pertama¬†lebar panel gendongan yang terlalu lebar menurut saya (bisa dilihat di pic di atas, sekitar 35cm). Penyebab utamanya mungkin karena produk ini juga diperuntukkan untuk bayi bule yang ukuran badannya lebih besar dari bayi Indonesia pada umumnya. Harus disetel2 lagi biar kakinya membentuk ‘M’ dan¬†nggak ngangkang jadinya.

Kedua¬†jarak tali bahu dengan yang di bawah ketiak (pada gambar diberi simbol ‘x’) terlalu dekat yaitu hanya 7cm. Akibatnya space ini terlalu kecil bagi lengan atas plus tangan bayi saya. Karena saya suka menyelipkan kedua tangan bayi ke bagian ini. Jadinya tangan dia kayak kejepit gitu. ¬†Mungkin ntar akan kelihatan bedanya pas saya ngebahas BECO dan POGNAE deh.

Overall saya suka produk ini terutama pilihan warna dan motifnya yang banyak dan cool (meski saya pribadi ngefan sama warna hitam). Cuma karena sedikit kekurangan tadi serta harganya yang cukup mahal (sekitar 1,8-1,9juta untuk EO) saya akhirnya tidak memutuskan untuk membeli merk ini.

Bersambung…

Gendongan Bayi/Anak

Sebelum anak pertama saya lahir. Saya kayaknya terlalu meremehkan pentingnya kualitas gendongan. Jadilah saya terkesan `asal beli` dan akhirnya nyesel sendiri kenapa nggak cari info lebih banyak sebelum memutuskan membeli sebuah gendongan. Padahal gendongan yang terlanjur dibeli belom dipake sama sekali. Terpikir untuk dijual di Kaskus.

Gendongan pertama yang dibeli model sling sepaket murah meriah dijual bersama tas dan selimut topi bayi. Seperti gambar di bawah.

gendongan

Gendongan model begini cukup bermanfaat sampai Baby saya berumur 3 bulan. Lewat dari itu badannya udah tambah berat dan panjang jadi nggak muat lagi pake gendongan ini. Apalagi pembagian bebannya ga merata jadi mulailah saya berburu gendongan model wrap yang lebih sehat untuk ortu yang menggendong.

Gendongan kedua, model carrier seperti berikut ini.

snobbyIni asli dibeli karena lapar mata. Ada yang mau beli? Baru pakai satu kali dan tidak nyaman buat saya dan juga bayinya. Mungkin karena tubuh saya yang termasuk berisi alias gemuk, jadinya ini gendongan kekecilan buat saya tali belakangnya. Akhirnya cuma disimpan dijual disini aja deh. Untung harganya nggak terlalu mahal.

Gendongan ketiga yaitu model Baby Wrap.

HANAROO-MAROON-1024x810

Baby Wrap adalah kain panjang yang dililitkan ke tubuh penggendong biar distribusi beban saat menggendong terbagi merata.¬†Saya beli merk Hanaroo, tepatnya tanggal 16 Maret 2015 seharga 165ribu langsung dari websitenya. Baby wrap ini sudah disertai tas pembungkus serbaguna berisi baby wrap+buku petunjuk+CD petunjuk. Saat itu saya pikir cuma itu satu-satunya merk Baby Wrap yang dijual di pasaran. Alhasil nggak pake dibandingin dulu dengan Baby Wrap merk lain baik yang produksi dalam ataupun luar negeri. Gendongan ini jadi favorit saya dan suami meski awalnya harus belajar dulu memakainya. Kainnya menurut saya terlalu stretch (gampang melar) ¬†karena bahannya emang terdiri dari 2 lapis kaos rayon adem. Bahan rayon ini¬†sering dibuat orang jadi inner ninja, atasan blouse, cardigan atau rok panjang. Kalo ga pinter2 masangnya bisa agak melorot bayinya ke bawah. But It’s OK.

Berhubung saya berencana travelling ke luar kota membawa Baby plus review¬†dari seorang¬†vlogger yang memamerkan Easy Wrap merk Baby K’tan. Tergoda juga saya membeli¬†Gendongan keempat¬†yaitu model Easy¬†Wrap Baby K’tan. Kemasan¬†Easy¬†wrap ini berbentuk box karton berisi easy wrap+buku petunjuk.

gallery49-smallBedanya dengan Baby Wrap, kalo Easy Wrap ini lebih praktis karena kain yang seharusnya melilit tubuh udah digabungkan sehingga tinggal sorong. Ibaratnya kerudung, easy wrap ini semacam kerudung bergo yang lebih cepat dibuka/pasang. Nah buat travelling kan agak ribet ya kalau pake Baby Wrap. Apalagi saat itu awal April 2015, Easy Wrap yang saya cari lagi diskon gede di Lazada dari 705ribu menjadi 449ribu. Meski masih mahal, tapi memang gendongan asal Amrik ini sangat praktis dan aman. Berdasarkan pertimbangan ukuran badan saya, Bismillah aja memilih ukuran M, ternyata pas. Oiya, kain Baby K’tan ini agak beda jenisnya dengan Hanaroo meski sama2 katun. Katunnya nggak jenis rayon kayak¬†Hanaroo. Pas diraba mirip bahan kaos oblong menurutku. Nggak se-stretch¬†Hanaroo. Terus lebih ringan dan menyimpannya pun udah ada pouch¬†yang terintegrasi sama ‘sabuk’ atau¬†belt¬†gendongannya. Mirip Ergobaby Stowaway atau Boba Air dimana si kantong¬†udah jadi bagian dari gendongan.

Review Stroller Chicco Liteway

Sebagai ibu baru, awalnya saya pikir gendongan aja cukup lah untuk Baby. Namun ada saatnya dimana saya harus menaruh Baby jika sedang mengerjakan pekerjaan lain. Seperti memasak contohnya. Ga mau ambil resiko deh si Baby deket2 sama api kompor. Apalagi dia pernah cobain stroller adik sepupunya di Banjar dan lumayan suka dibawa jalan2 dengan Baby gear tersebut. Meskipun jalannya cuma dalam rumah, ga pernah keluar. Akhirnya, karena si Baby juga tambah berat. Sekitar 7,2 kg pas genap 5 bulan. Saya memutuskan hunting stroller.

Awalnya tertarik dengan yang lite2 seperti Baby Elle Citilite, Graco LiteRider, Cocolatte, Peg Perego hingga Aprica. Mulailah saya rajin blogwalking dan vlogwalking mencari yang paling pas namun best value (murah tapi ga murahan). Sampai saya bertemu dengan video yang diupload oleh babygearlab.com. Sebuah website yang didirikan untuk yang mengupas rupa2 baby gear dari perspektif ahlinya. Pendiri web itu sendiri seorang ibu plus dokter anak, dan baby gear yang diujikan semua dibeli dengan duit sendiri (bukan titipan sponsor merk tertentu) jadi mungkin reviewnya lebih independen dan objektif.

Berdasarkan review dari web tersebut dan juga nonton review stroller yang sama di youtube, saya memutuskan untuk memilih umbrella stroller best value versi babygearlab yaitu merk Chicco Liteway. Pas hunting di beberapa olshop termasuk Lazada, jenis ini ternyata udah keluar model terbarunya dimana semua rangka besi dan plastik berwarna hitam. Ada sih yang masih jual keluaran lama yang warna besinya ga semua hitam. Namun warna yang tersedia cuma biru dan coklat. Ga begitu sreg di hati ngeliatnya. Keluaran terbaru ada di Lazada, disitu tertera pengiriman dari Melindacare. Pas saya cek ke web Melindacare langsung, ternyata lagi diskon dan harganya di bawah Lazada. Dan harga setelah diskon tersebut, selisih harganya cuma 200rb sama yang keluaran lama yang warnanya saya kurang sreg tadi. Akhirnya langsung saya order stroller yang dimaksud ke Melindacare.com. Pesanan saya order,trf dan dikirim oleh Melindacare dari Bandung, Selasa ,12 Mei 2015. Karena kepotong libur nasional hari Kamis dan mungkin juga karena dikirim via JNE Trucking (bukan yang biasa), strollernya datang di Jakarta, Jum`at, 15 Mei 2015. Termasuk cepat sih.

Pas buka kardusnya. Ternyata udah tinggal pasang roda depan trus dibuka lipatan2nya dan pasang kanopi aja. Ga perlu obeng atau perkakas tambahan apapun deh buat merakit pertama kali. Beda dengan yang saya lihat di babygearlab dulu. Mungkin karena versi terbaru. Begitu selesai dirakit langsung dicobain. Dan ternyata si Baby lumayan anteng ditaro di stroller barunya.  Beberapa kelebihan stroller ini yang mungkin jadi alasan utama babygearlab memilihnya sebagai best value stroller umbrella karena :

  • Kokoh. Roda belakang lebih besar dari roda depan. Jadi pas dibawa jalan terasa lebih kokoh dan stabil karena beban bagian¬†belakang memang lebih besar karena tubuh si Baby di dalamnya.
  • Manuver roda-roda ringan. Jika dibandingkan dengan stroller merk BabyElle kok rasanya merk ini lebih smooth aja pas didorong.
  • ¬†Mudah dirakit. Tinggal pasang roda depan, buka lipatan strollernya dan Baby udah bisa langsung ditaruh di kursinya. Untuk pasang kanopi juga mudah tinggal ditempelkan aja ke sisi2 stroller.
  • Breathable. Bagian belakang kanopi ada penutup beresleting dan bervelcro untuk mengintip si Baby. Bagian penutup ini malah¬† bisa dibuka sama sekali sehingga antara kursi dan kanopi jadi ada rongga terbuka lepas, tanpa penutup. Fitur seperti ini cocok untuk udara tropis.
  • Tempat duduk cukup lebar jika dibandingkan merk Baby Elle.
  • Buckle seat cukup mudah dibuka.

Beberapa kekurangan yang mungkin bagi sebagian ortu dianggap penting :

  • Stroller ini cukup berat (17 lbs 3 oz ~ 7,8 kg) jadi tidak untuk dibawa-bawa travelling sih menurut saya. Kalo baca di review ibu-ibu yang punya stroller. Stroller yang terlalu ringan kurang cocok dengan jalanan di Indonesia yang ga semua datar dan rata ^^.
  • Tangkai pendorong hanya bisa satu posisi. Jadi tidak bisa hadap2an dengan bayi saat menggunakan stroller ini.
  • Tidak ada¬†cup holder, rain cover, dan footmuff.¬†Sepertinya untuk produk yang akan dijual di Indonesia,¬†stroller ini¬†tidak disertakan¬†ketiga aksesoris tersebut.¬†Berbeda dengan review dari luar negeri dimana produk memang ditujukan untuk dijual di negara 4 musim. Di kardusnya memang tertulis bahwa produk ini ditujukan untuk Indonesia. Made in China (as usual :))
  • Tidak disertai tas pembungkus stroller.

Sejauh ini saya puas dengan kualitas produk ini, beruntung bisa mendapatkan review dari babygearlab.com dulu.

Petunjuk Ukuran Baju Bayi Carter’s Junior, NEXT dan Fluffy

Pernah beli baju lewat toko online? Saya sering banget. Mungkin 99% baju bayi, saya beli online alias semuanya haha. Nah kadang pas beli online si penjual cuma memberi keterangan usia¬†bayi untuk ukuran baju yang dijual. Disitu kadang saya merasa agak kecewa karena untuk usia¬†yang sama, berat bayi kan beda-beda ya. Bahkan beda merk, beda lagi ukurannya meski ditujukan untuk usia bayi yang sama. Contohnya aja merk Carter’s Junior dan NEXT ini. Untuk kedua merk, saya baru aja membeli size 9 bulan (9M) ternyata jika si penjual/produsen baju menulis size “9 bulan” or “9M” itu maksudnya untuk rentang usia 6-9M. Padahal tadinya sih harapan saya keterangan size 9 bulan ini maksudnya adalah mulai bisa dipakai sejak usia 9 bulan. Ternyata kebalik hanya bisa dipakai sampai usia 9 bulan. Padahal si baby sekarang sudah punya beberapa baju untuk size 6-9M tersebut. Tapi gak apa deh buat pengalaman berikutnya jadi lebih ngerti memilih size yang benar. Untuk lebih jelasnya, berikut foto keterangan ¬†ukuran baju bayi di kemasan baju merk¬†Carter’s Junior dan NEXT berdasarkan pengelompokan usia : Carter’s Junior CAM01753

NEXT

CAM01754

Merk baju lain yang perlu diketahui juga rentang berat pemakainya yaitu merk Fluffy, Libby dan Velvet Junior. Untuk Merk Fluffy biasanya ada size : NewBorn/NB (0-3M) untuk berat NB-5kg, S (2-5M) untuk berat 4-7kg, M (5-8M) untuk berat 7-9kg FYI size M nya Fluffy nggak jauh beda dengan S nya Velvet Junior. L (8-12M) untuk berat 9-12kg. Yang saya suka dari merk Fluffy, pada baju yang baru dibeli ada sticker keterangan size, usia dan berat bayi (sticker ini sifatnya hanya tempelan bukan yang dijahit ke baju). Seperti gambar berikut ini. Untuk ukuran Medium (M), ditujukan untuk bayi usia 5-8 bulan dengan berat 7-9kg. Pas dengan pertumbuhan bayiku (ini sih kebetulan aja), yang pas usia 5 bulan kemarin beratnya¬†sekitar 7,2 kg ūüôā

Sticker Ukuran Size Fluffy

  CAM01755

Libby biasanya ada size NB, 3-6M lalu S,M dan L (beda dengan Fluffy yang tidak ada size 3-6M) Pembagian ukuran Velvet Junior mirip dengan Fluffy saya lihat, yaitu ada size NB lalu S,M dan L untuk setelah NB. So ibu-ibu yang suka belanja baju bayi online, semoga terbantu ya dengan info ini biar ga salah pilih ukuran buat bayi tersayang.

PS : buat yang lagi nyari selimut carter double fleece/ baju fluffy newborn/ sleepsuit next new born-12m jangan lupa ceki2 disini (Tokopedia) or disini ya ^_^v

How To Spot a Fake Fez Ergo Baby Carrier; from the Petunia Pickle Bottom series

Saat ini nggak hanya tas bermerk yang banyak diproduksi kualitas KW (tiruan) tapi gendongan juga. Penasaran deh gimana cara bedain yang asli sama yang KW. Salah2 ntar merasa udah beli yang asli (mahal bo).. eh ternyata itu barang tiruan/KW juga..

SOURCE 

I have to say the fake is VERY close in a lot of ways. I wasn’t even SURE it was fake until I emailed pictures to ERGO and got it confirmed.

So take a look below, and always check your Ergos THOROUGHLY. Unless you got them directly from ERGO there is always a risk.

In general the real will be on the left and the fake on the right.

Image

It’s easy to see that the real ergo (on the left) is wider, if you have a definite real one to compare with.

Image

Not only that, but the fake is also shorter; having a shorter waistband. (Fake is over the Real)

Image

Image

The padding is thicker and squishy-er in the real on the left.

Image

A quick comparison of the bottom of the box, reveals a lack of stickers on the fake.

Image

The only difference I noticed here was the coloring. Most noticeably: If you look closely the ‚Äúleaf‚ÄĚ on the logo is very YELLOW on the fake (fake on right).

ImageImage

Again: If you look closely the ‚Äúleaf‚ÄĚ on the logo is very YELLOW on the fake, brownish in the real (fake on the bottom).

Image

On the front the fake (on the right) has slightly blue tinge in person; something about it will seem off too you.

Image

Also on this Fabric logo the fake is more purply (right), with the real (left) being a definite brown.

Image

Image

On the manual, the fake on the right has rather odd coloring and is fuzzy‚Äď clearly a print quality issue.

This is one of the things that was a red flag to me; even without having any real ergos to compare it with.

Image

The logo on the manual is a little more red/maroon in the fake (on the right).

Image

Same issues with the logo on the back of the manual; in person the printing quality of the fake (on the right) was inferior enough to increase my suspicions.

Image

The buckles look IDENTICAL to me; I wouldn’t be surprised if they are really the same. Have the logo on the front and the WJ on the back of both (Real on the left tho; just in case someone can tell the difference!)

Image

Real left

Image

These are the tags found inside the pocket (for the hood).. when I just take it out normally the fake (right) is upside down… the font is slightly different too.

Image

The real one (on the left) has a green sticker that says ‚ÄúPASSED METAL DETECTION‚ÄĚ

ImageImage

Real on the left, is more circular; less ovular. With a more distinctly light blue (instead of, “Is that blue? or white) thread on the top of the logo design. The leaf also seems lighter in the real (left), at least in pictures.

Image

Real sticker on registration card. (pic above this sentence)

More Pictures: Unless otherwise stated all pics below are real to the left, fake to the right

ImageImageImage

, Real above, Fake Below

 photo DSC05416_zpsdff6a1cb.jpg

ImageImageImageImageImage

 photo DSC05429_zpsc608c91c.jpg

Image

Image

Fake buckle above real

ImageImage

 photo DSC05423_zps026cd4f3.jpg

Fake button strap above. Real Below.

Image

Fake Below.

 photo DSC05424_zps63a31f39.jpg

My major concern with the fake‚ÄĒ and something to look out for; Is how easily the buckles slide around if you pull on them. With the real it is definitely harder‚ÄĒ probably because the real webbing seems sturdier: less flexible; less soft. If the buckles can slide around easily like this ‚ÄĒ the danger is¬† real that it will also do this while wearing the carrier‚Ķ If it does, your child could come loose & slip right out! So pull on your buckles; do they slide easily? That‚Äôs a big red flag. Take pictures & send it into ErgoSupport. They can tell you if your carrier is real or not. email: support@ergobaby.com

Secondly‚Äď the stitching does not seem quite as close (but this is pretty hard to tell)‚Ķ and the thread itself is probably of a lower quality (it seems slightly more fuzzy, while the real thread isn‚Äôt and has a slight sheen)‚Ķ But I sew a good bit, and I wouldn‚Äôt be surprised if it were missed. However, having quality thread and tight, thoroughly reinforced stitching is pretty much one of (if not THE) most important things to insure a safe carrier. If the thread breaks the carrier breaks.

In a nutshell…

The Carrier

Similarities:

The buckles‚ÄĒ are so identical I can‚Äôt tell them apart!

The fabric‚ÄĒ they look AND FEEL the same to me.

So many other things are SO similar, but just slightly different… only in a few cases is there a large difference.

Differences: (Major safety concerns are bolded)

The webbing is soft & flexible on the fake; so is the real‚ÄĒ but when you feel them both at the same time the real definitely seems sturdier. The major difference/concern is how easily the buckles slide on the fake.

The overall stitching on the real seems better: more closely spaced, more attention to detail, better thread & seemingly more reinforced.

The real carrier is wider & taller when the width of the  supportive belt is taken into account.

The supportive belt (waist section) is wider in the real one.

The safety elastic in the real is wider, and I’d say, tighter.

The real hood is larger‚ÄĒ more like a square

The padding in the real is thicker & squishy-er (more squishy)

The tagging is slightly different & in the real‚Äď the tag inside the hood pouch has a sticker on the back in green that says: ‚ÄúPASSED METAL DETECTION‚ÄĚ

In the real; the ORGANIC COTTON tag on the carrier is surrounded by more black

The fabric pattern is facing a different way.. this isn’t something I noticed until days later. It’s such a busy pattern it’s hard to tell. But look closely and you’ll see it’s true!

The light blue thread in the logo on the fake is lighter than the real…

There are some other small superficial differences that were shown in the pictures as well.

The Box & Manual

The printing quality is just overall better. See the pics more more details, but if you question the printing quality, that is a red flag too.

Check out these other blogs… for more things to look for in spotting a fake ergo.

http://counterfeitergobabycarrier.blogspot.com/

http://thehumbledoula.wordpress.com/2012/06/02/how-to-spot-a-fake-ergo-baby-carrier/

To read more about my whole experience with the fake ergo (how/where I got it etc) click the link below or search for ergo, fez or something in my blog

https://artistmomwife.wordpress.com/2013/09/14/my-experience-buying-a-fake-frolicking-in-fez-ergo-carrier/

Pengalaman Melahirkan Anak Pertama (2)

Menyambung tulisan saya sebelumnya

Seiring berjalannya waktu, suami menyarankan saya  untuk terus melatih Baby menyusu langsung. Awalnya saya coba pakai Nipple Shield karena ujungnya yang mirip dot, membuat Baby mau menghisap. Namun entah karena Nipple Shieldnya kebesaran atau apa, pelekatan ke PD tidak sempurna yang berujung sakitnya puting. Sakitnya tuh seperti daging keiris2. Akhirnya balik lagi ke pompa, botol dan dot, hiks.

Beberapa waktu kemudian saya coba berikan ASI langsung tanpa penyambung/nipple shield. Awalnya berhasil di PD kiri saja, menyusul juga di PD kanan. Padahal dulu saya sempat pesimis Baby bakalan bisa menyusu langsung tanpa penyambung. Alhamdulillah. Maka nikmat Allah mana lagi yang engkau dustakan ?

Apakah masalah pemberian ASI udah selesai sampai sini. Hmm.. No. Ternyata saya masih belum lihai memposisikan pelekatan yang baik saat Baby menyusu yang berujung pada luka/nipple crack di puting PD kiri. Untungnya pas dipompa masih bisa, namun kalau dipaksain menyusui langsung sakit banget, sampai nangis2 menahan rasa sakitnya setiap Baby menyusui di PD kiri. Solusinya PD kiri saya puasakan dari menyusui langsung selama 24jam lebih, namun ASInya terus saya pompa dan berikan lewat botol+dot. Sedangkan PD kanan, karena keseringan dihisap dengan dalam, sudah mulai2 perih namun masih bisa tertahankan sakitnya sehingga tetap saya berikan langsung.

Baby bukan bayi ASIX karena pas usia 12 hari hingga 2 bulan sempat dibantu tambahan sufor disaat ASI Perahan habis atau belum sempat diperah. Sehingga satu2nya jalan agar dia tidak kelaparan ya sufor.

Sekarang usia Baby sudah 4 bulan 26 hari. Dengan berat 6,8 kg, Baby sudah semakin lancar menyusui. Sejak usia 2 bulan sudah tidak dicampur sufor lagi ASInya. (Pernah sekali ding dikasih pas usia 2 bulan 2 hari kalau ga salah. Itupun cuma sekali karena puting PD sakit banget sehingga dengan berat hati kasih sufor lagi).

Pengalaman Melahirkan Anak Pertama (1)

Hari ini, 13 Maret 2015, anak pertama saya Baby sudah menginjak usia 3 bulan 1 hari (Lahir 12 Desember 2014). Mungkin kalo masih menyandang status wanita karir, Baby udah harus saya tinggal seharian dari pagi hingga sore sejak 1 bulan yang lalu. Tidak terbayang beratnya para ibu baru melepas bayinya yang baru 2 bulan ke pengasuh atau keluarga dekat. Kebetulan sejak awal Februari (pas Baby baru berumur 1,5 bulan) kami sudah tidak dibantu siapa-siapa lagi untuk mengurus Baby. Jadilah suami banyak mengambil alih pekerjaan domestik di sisa kesibukannya seharian di kantor. Mulai dari masak, cuci piring, baju hingga setrika. Untung yang disetrika cukup baju kantor suami. Sedangkan saya fokus mengurus Baby sambil bantu2 mana yang bisa jika kebetulan Baby tidur/ lagi anteng.

Hari Perkiraan Lahir (HPL) Baby menurut Dokter Kandungan seharusnya tanggal 26 Desember 2014, namun karena tanggal 11 Desember 2014 jam 8.30 saya mengalami Ketuban Pecah Dini (KPD) buru-buru lah kami ke RS terdekat (swasta). Di RS saya di observasi hingga sore namun belum ada tanda-tanda bayi bisa lahir normal dan Dokter saat itu tetap mengharuskan operasi SC. Suami saya, setelah berkonsultasi dengan keluarganya yang juga Dokter, memutuskan membawa saya ke RS** (pemerintah), karena dinilai di situ perlengkapan medisnya terlengkap se Indonesia. Tebak sendiri ajalah ** itu huruf apa ya dari clue barusan ^^. Niatnya pindah RS sih untuk cari 2nd opinion agar tetap bisa lahiran normal.

Setelah mengarungi kemacetan ibukota, karena kami baru menuju RS** pas jam orang pulang kantor, akhirnya saya masuk ke IGD RS**. Dari pemeriksaan disana juga Dokter tetap mengharuskan kami operasi SC karena air ketuban sudah terlalu sedikit untuk normal. Kalo dalam bahasa medisnya Angka ICA/Indeks Cairan Amnion kandungan saya udah tinggal 3 (artinya ketebalan cairan air ketuban tinggal 3cm), sedangkan untuk lahiran normal minimal harus 10. Ok, akhirnya suami setuju saya akhirnya harus di operasi SC demi menyelamatkan si baby. Jumat, 12 Desember 2014, pukul 00.55, Baby lahir dengan berat 2,8 kg dan panjang 47 cm. Termasuk kecil, maklum cepat 2 minggu dari HPL. Tapi saya tetap bersyukur KPD-nya terjadi saat usia janin udah lewat dari 36 minggu.

Kesan saya melahirkan anak pertama emang terasa mimpi aja, karena semua terasa mendadak. Apalagi di RS**, setelah masuk ruang inap, pelayanannya tentu tidak sebagus RS swasta. RS** tampaknya ga begitu care dengan IMD jadilah Baby puasa dari sejak lahir Jum`at dini hari hingga Minggu pagi. Kalo dihitung sekitar 58jam. Entah kenapa, karena saya hanya berdua dengan Baby di Ruang Rawat Inap, dan petugas RS juga tidak rutin memeriksa kondisi kami, pikiran saya blank mengenai ASI di hari awal kami dipindahkan ke Ruangan. Apalagi pasca operasi saya TIDAK BOLEH DUDUK selama 12 jam, serta TIDAK BOLEH BERDIRI/TURUN DARI BED selama 24 jam.

Dengan kondisi begitu bayi ditidurkan di box di sebelah bed saya dan tidak ada satu anggota keluarga pun yang boleh menemani kami di luar jam besuk. Anehnya¬†tidak pula ada suster yang stand by di dekat kami. Boro-boro mau IMD, mengangkat bayi aja saya belum sanggup. CUKUP SEKALI aja deh melahirkan di RS**.¬†Untungnya Sabtu malam Baby¬†menangis dengan sangat kencangnya karena kelaparan, barulah saya¬†sadar ASI harus segera dihisap atau diperah dan diberikan ke Baby. Lelet banget ya?? Emangnya bayi bisa kenyang dengan digendong2 doank? Bukannya saya¬†lupa tapi kondisi fisik yang masih lemah membuat saya¬†blank ga tau mau ngapain.¬† Akhirnya suster di RS memberiku semacam penarik puting/pompa ASI (yang aslinya spet bekas suntikan besar yang jarumnya sudah dilepas) plus botol kaca penampung (beli sih). Namun karena terasa masih sakit, acara pompa memompa saya hentikan karena kelelahan dan akhirnya tertidur hingga Minggu pagi. Pas Minggu pagi inilah akhirnya ada suster lain yang langsung membantu memerah ASI sehingga akhirnya Baby berbuka dari puasa panjangnya sejak Jum’at dini hari pas baru lahir. ¬†Untungnya kubaca-baca bayi bisa bertahan tanpa asupan makanan hingga 3×24 jam setelah lahiran, karena masih memiliki cadangan makanan yang dibawa saat masih dalam kandungan.

Senin siang, kami pulang ke rumah dan masalah baru yaitu menyuapi Baby dengan ASIP karena dia belum mahir menghisap PD yang nipplenya masih inverted. Perkara memompa itu udah satu urusan yang cukup melelahkan, ditambah lagi menyuapi ASIP dengan sendok setiap 2 jam yang selain memakan waktu lama, juga pada saat diberikan sering tumpah2/ dikeluarkan lagi sehingga nggak banyak yang bisa masuk ke perut Baby. Dampak dari kesulitan memberikan ASI di awal ini berujung pada tingginya Bilirubin Baby saat cek up di usia 10 hari. Ibu saya akhirnya menyarankan untuk memberi ASIP lewat botol, agar lebih banyak dan cepat masuknya sehingga Bilirubin Baby bisa segera turun. Masalah bingung puting bukan jadi prioritas kami saat itu.

Bersambung